Menurut Harsono, warga RT-nya hampir semuanya warga miskin. Pendapatan warga tak lebih dari Rp 1 juta per bulan. ”Yang pendapatannya Rp 1 juta juga hanya beberapa orang saja. Kebanyakan warga sini sebagai pemulung,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kondisi permukiman warga di RT ini juga jauh dari layak. Rumah tanpa sanitasi yang baik, serta tampak kumuh. Sunarno misalnya. Ia tinggal di rumah sederhana berukuran 2×7 meter persegi. Dinding rumahnya tembok batu bata belum diplester dipadu dengan papan yang mulai keropos. Di rumah sempit itu, ia tinggal bersama anak, menantu, dan cucunya.

Pria asal Kalibaru ini tinggal di RT 8 RW VI sejak 1982. Di rumahnya, hanya terdapat satu kamar, dan satu televisi. Dapur dan kamar mandinya berada di belakang rumahnya. Sebelumnya, dia bekerja sebagai kuli angkut. Dalam sehari, jika ramai bisa memperoleh penghasilan Rp 75 ribu-Rp 100 ribu. Kini dia hanya di rumah bersama anaknya yang bekerja di usaha katering. ”Sekarang sudah tidak kuat, angkat yang berat sedikit sudah sesak napas. Sekarang di rumah saja,” ujar pria yang akrab disapa Narno ini.

Selain sebagai tempat tinggal, bangunan di kampung ini juga digunakan sebagai tempat usaha. Di antaranya, usaha pijat. Sedikitnya terdapat 8 usaha pijat. Selain itu, terdapat bengkel, warung makan, jual onderdil motor dan usaha lainnya.

Sri Utami, warga asli Kudus membuka warung makan. Dalam sehari, ia mengaku mendapatkan penghasilan yang tidak tentu. Untuk membuka usaha ini, ia harus pinjam uang di bank dan membayar dengan cara mengangsur setiap bulannya. Dia juga harus membayar uang sewa kepada pemilik bangunan yang ditempati sebesar Rp 3 juta setiap dua tahun. Untuk tempat pijat, tuturnya, mereka harus bayar sewa kamar Rp 400 ribu per bulan.

Tukini, warga yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di RT 8 RW VI juga mengaku sebagai pendatang. Ia membuka usaha pijat di bangunan berukuran 3×6 meter persegi. Bangunan dua lantai itu digunakan sebagai tempat pijat sekaligus warung makan. Tukini mengaku tidak memiliki sertifikat tanah. Ia hanya mengantongi izin Pedagang Kaki Lima (PKL).