KOMPAK: Sebagian ibu-ibu anggota Komunitas Tangan Terampil Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)
KOMPAK: Sebagian ibu-ibu anggota Komunitas Tangan Terampil Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)
KOMPAK: Sebagian ibu-ibu anggota Komunitas Tangan Terampil Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)
KOMPAK: Sebagian ibu-ibu anggota Komunitas Tangan Terampil Semarang. (DOKUMENTASI PRIBADI)

Siapa bilang ibu rumah tangga tidak punya kesempatan menambah uang belanja. Kalau mau, Komunitas Tangan Terampil Semarang bisa membantu. Mereka akan mengajari bagaimana ’membuka’ bakat kreativitas membuat aneka keterampilan. Seperti apa?

AJIE MAHENDRA

KOMUNITAS yang baru lahir awal 2015 lalu ini boleh dibilang wadah bagi mereka yang ingin menyandang predikat pelaku usaha kecil menengah (UKM). Founder Komunitas Tangan Terampil, Natalia Sari Pujiastuti sengaja menyasar kaum hawa yang punya banyak waktu luang, terutama ibu-ibu rumah tangga. Dia akan mengajari bagaimana waktu luang tersebut diolah menjadi kesempatan mendulang rupiah.

Mereka akan dilatih bagaimana membuat kerajinan, sesuai dengan chemistry masing-masing. Yang jelas, kerajinan yang dilahirkan harus memiliki originalitas dan diferensiasi agar dilirik konsumen. ”Tidak ada paksaan harus bikin ini atau itu. Mereka kami bebaskan. Kami hanya membantu berkreativitas saja,” ucap Naneth, sapaan akrab Natalia kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Beberapa kegiatan yang dilakukan adalah memberikan pelatihan keterampilan tangan yang mudah dilakukan dan memiliki nilai ekonomis. Misalnya, pelatihan membuat aksesori, manik-manik, sulam pita dan membatik. Perkawinan antara pelatihan dan kebebasan berekspresi itu lahir banyak kerajinan asli Tangan Terampil. Entah kerajinan pangan maupun nonpangan.