Kini Dorong Transportasi Masal

273
JADI ANDALAN: Ribuan pemudik turun dari kapal laut yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa waktu lalu. Setelah menggenjot infrastruktur, kini Pemprov Jawa Tengah mendorong transportasi masal. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
JADI ANDALAN: Ribuan pemudik turun dari kapal laut yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa waktu lalu. Setelah menggenjot infrastruktur, kini Pemprov Jawa Tengah mendorong transportasi masal. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
JADI ANDALAN: Ribuan pemudik turun dari kapal laut yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa waktu lalu. Setelah menggenjot infrastruktur, kini Pemprov Jawa Tengah mendorong transportasi masal. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
JADI ANDALAN: Ribuan pemudik turun dari kapal laut yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang beberapa waktu lalu. Setelah menggenjot infrastruktur, kini Pemprov Jawa Tengah mendorong transportasi masal. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Program Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo tiba-tiba pindah haluan. Setelah gembar-gembor peningkatan infrastruktur, gubernur berambut putih ini berbelok dan mendorong moda transportasi umum. Pembelokan itu ditegaskan setelah tragedi kemacetan parah di pintu keluar tol Brebes Timur saat arus mudik Lebaran, lalu.

Dalam dialog interaktif bertajuk ”Mas Ganjar Menyapa” di rumah dinas Puri Gedeh, Selasa (12/7), dia menekankan agar warga Jateng meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi. Juga memanfaatkan transportasi umum seperti bus dan kereta api untuk bepergian, terutama saat mudik. ”Meminimalisasi penggunaan kendaraan pribadi dapat mengurangi kemacetan dan kecelakaan lalu lintas di jalan raya,” tegasnya.

Ganjar mengungkapkan, pemprov akan menggandeng pihak terkait terus berupaya memperbaiki moda transportasi masal. Menurutnya, jika ada tambahan satu juta saja pemudik yang menggunakan kereta api, maka akan berdampak terhadap pengurangan kepadatan arus kendaraan di jalan raya.

”Jika minat masyarakat beralih ke transportasi umum tinggi, termasuk saat musim mudik dan balik Lebaran, dapat menekan pemerintah untuk menyiapkan moda transportasi umum yang memadai,” ujar mantan anggota DPR RI itu.

Dia mengaku sepakat jika pemerintah membuka ruang agar ada kereta api swasta sehingga PT Kereta Api Indonesia akan mendapat saingan dalam melayani masyarakat. ”Jika tetap dimonopoli, maka harus ada penambahan jumlah kereta api sekaligus peningkatan pelayanannya agar masyarakat tertarik,” bebernya.