Untuk menarikan tarian ini memang susah-susah gampang. Seperti Adinda Kusumawardhani, gadis asal Bekasi yang mulai menyukai tarian ini. Meskipun banyak senangnya, namun pada awalnya ia sempat merasakan lecet pada mata kaki, lutut, dan merasakan pegal-pegal. Meskipun banyak duduk dalam melakukan tarian ini, namun ia dan kawan-kawannya harus melakukan banyak gerakan. Adinda juga merasakan adanya beban jika melakukan kesalahan dalam gerakan, karena akan merusak keindahan satu kesatuan gerakan.

”Kemungkinan salah untuk menarikan tarian ini tuh besar, karena gerakannya mirip-mirip dan ketukannya variatif sesuai dengan lagunya. Yang paling susah itu menyanyikan lirik bahasa Aceh. Karena bukan orang Aceh, tapi harus baca lirik dengan benar, bukan nyanyi sedengernya saja,” ungkapnya.

Dalam tarian ini, kata dia, pada saat-saat tertentu penari memang diharuskan untuk menyanyi. Bahkan, menurutnya, terdapat sesi latihan untuk membulatkan suara satu tim. Adinda mengaku sangat senang dapat menjadi bagian dari penari Ratoh Jaroe ini. Meskipun banyak aturan yang harus dipelajari juga dalam hal memakai kostum yang tidak boleh sembarangan, mulai dari topi, sabuk dan perlengkapan lainnya. (*/aro/ce1)