Untuk melatih teman-teman dari luar Aceh yang kebanyakan harus memulai dari nol, ia mengaku sedikit kesulitan. Ia harus mendikte orang yang bukan asli Aceh agar bisa menyanyikan syair Aceh. Meskipun bisa menyanyikan syairnya, katanya, juga akan berbeda dengan pelantunan orang asli Aceh. Dan menurutnya, itu juga memerlukan waktu yang cukup lama.

”Susahnya ngajarin untuk menyanyikan lirik Aceh. Liriknya hampir semua bernapaskan Islam. Islam di Aceh itu sangat kental, jadi syair yang dilantunkan untuk mengiringi tarian ini berisi puji-pujian kepada Allah SWT, salawat kepada Nabi Muhammad SAW, dan nasihat untuk kehidupan sehari-hari. Selain itu juga ada syair yang menceritakan kejadian atau sejarah masa lampau,” ceritanya.

Ia menambahkan, karena semua tarian Aceh pada zaman dulu digunakan sebagai media dakwah Islam, unsur Islami dalam tarian ini sangat kental, terutama pada syairnya. ”Susah-susah gampang sih ya untuk melatih, tapi kalau mau bersungguh-sungguh pasti bisa kok. Buktinya banyak yang tidak asli Aceh yang mahir menarikan tarian ini. Kuncinya harus mau berusaha,” tuturnya.

Dalam upayanya ini, ia dan kawan-kawan masih harus berusaha sekuat tenaga untuk mengubah persepsi kebanyakan orang yang masih memandang tarian ini dengan sebelah mata. ”Mungkin karena ini merupakan kebudayaan yang datang dari luar kebudayaan mereka, jadi mereka masih kurang mengapresiasi kebudayaan ini,” ungkapnya sedih.

Hingga kini anggota komunitas Tari Aceh di Semarang sudah mencapai ratusan orang yang tersebar di beberapa komunitas di universitas, fakultas, jurusan dan beberapa sekolah baik SMP maupun SMA. Ke depan, ia berharap agar semua Komunitas Ratoh Jaroe di Kota Semarang lebih giat berlatih demi memopulerkan Ratoh Jaroe di ibukota Jawa Tengah ini.

”Saya ingin terbentuk Komunitas Ratoh Jaroe di Kota Semarang yang lebih banyak lagi. Tidak hanya di kalangan mahasiswa dan siswa SMA, namun Ratoh Jaroe dapat menjadi ekstrakurikuler seperti di SD, SMP maupun SMA di Jakarta,” harapnya.