Penerima Vaksin Palsu Akan Didata Balai POM

314
PERLU DIUSUT TUNTAS: Petugas Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM) Semarang saat mengecek keaslian vaksin dalam razia vaksin palsu yang digelar beberapa waktu lalu. Saat ini pihak berwajib masih menelusuri alur peredaran vaksin palsu. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
PERLU DIUSUT TUNTAS: Petugas Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM) Semarang saat mengecek keaslian vaksin dalam razia vaksin palsu yang digelar beberapa waktu lalu. Saat ini pihak berwajib masih menelusuri alur peredaran vaksin palsu. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
PERLU DIUSUT TUNTAS: Petugas Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM) Semarang saat mengecek keaslian vaksin dalam razia vaksin palsu yang digelar beberapa waktu lalu. Saat ini pihak berwajib masih menelusuri alur peredaran vaksin palsu. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)
PERLU DIUSUT TUNTAS: Petugas Balai Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM) Semarang saat mengecek keaslian vaksin dalam razia vaksin palsu yang digelar beberapa waktu lalu. Saat ini pihak berwajib masih menelusuri alur peredaran vaksin palsu. (Adityo Dwi/Jawa Pos Radar Semarang)

SEMARANG – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (Balai POM) telah menemukan beberapa vail vaksin BCG yang diduga palsu di tiga layanan kesehatan Semarang. Jika setelah uji laboratorium, vaksin tersebut divonis palsu, Dinas Kesehatan akan segera meruntut mata rantainya.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Pranowo mengaku akan meruntut layanan kesehtan mana saja yang mendapat vaksin dari distributor vaksin palsu tersebut. Setelah datanya lengkap, akan diunggah di website milik dinas. Dengan begitu, bagi orang tua yang merasa mengimunisasikan anak mereka di rumah sakit tersebut, bisa tahu bahwa yang telah disuntikkan adalah vaksin palsu.

”Nanti ada kolom untuk diisi bagi yang merasa menerima vaksin palsu. Akan kami data, dan diundang untuk diberi vaksin yang asli secara gratis. Ini bukan revaksinasi atau imunisasi ulang karena mereka kan memang belum divaksin,” paparnya.

Dia menjelaskan, dari hasil penelusuran pihak kepolisian, ada dugaan vaksin palsu sudah beredar sejak 2003 silam. Yulianto tidak menampik jika meruntut peredaran vaksin tersebut akan sangat sulit. Terlebih, layanan kesehatan yang mendapat vaksin palsu, tidak punya database kapan dan kepada siapa vaksin palsu itu diberikan.