Jelang Lebaran, Ratusan Warga Masih di Pengungsian

Rob Masih 60 Sentimeter

340
MASIH MERENDAM : Menjelang Lebaran, ratusan warga di pesisir masih bertahan di posko pengungsian dan tenda-tenda darurat, akibat rob masih merendam permukiman. (MUHAMMAD HADIYAN/RADAR PEKALONGAN/JPNN)
MASIH MERENDAM : Menjelang Lebaran, ratusan warga di pesisir masih bertahan di posko pengungsian dan tenda-tenda darurat, akibat rob masih merendam permukiman. (MUHAMMAD HADIYAN/RADAR PEKALONGAN/JPNN)
MASIH MERENDAM : Menjelang Lebaran, ratusan warga di pesisir masih bertahan di posko pengungsian dan tenda-tenda darurat, akibat rob masih merendam permukiman. (MUHAMMAD HADIYAN/RADAR PEKALONGAN/JPNN)
MASIH MERENDAM : Menjelang Lebaran, ratusan warga di pesisir masih bertahan di posko pengungsian dan tenda-tenda darurat, akibat rob masih merendam permukiman. (MUHAMMAD HADIYAN/RADAR PEKALONGAN/JPNN)

KAJEN-Meskipun masa tanggap darurat sudah berakhir, Senin (27/6) lalu, namun genangan rob di pesisir Kabupaten Pekalongan masih tinggi. Hal itu membuat ratusan warga tetap bertahan di tenda-tenda darurat dan posko-posko pengungsian. Bahkan, para korban bencana banjir rob ini masih akan tetap bertahan di pengungsian pada hari Raya Idul Fitri, 6 Juli 2016 mendatang.

Berdasarkan pantauan koran ini, banjir rob masih menggenang sejumlah desa di Kecamatan Tirto dan Wonokerto dengan ketinggian rob sekitar 40 hingga 60 sentimeter.

Perangkat Desa Tegaldowo, Kecamatan Tirto, Kuntari, kemarin, mengatakan bahwa sampai saat ini, sekitar 300 rumah dari RT1 sampai RT10 di desa tersebut masih terendam. Ketinggian rob di desa ini, dalam kisaran 10 hingga 40 sentimeter.

Akibatnya, sekitar 180 warga di daerah tersebut terpaksa bertahan di posko pengungsian dan tenda-tenda darurat yang dibangun warga di sepanjang tanggul Sungai Meduri. Sudah sebulan ini, warga berada di pengungsian, sejak rob besar merendam permukiman.

“Rob besar ini sudah satu bulan lebih. Warga masih banyak yang tinggal di pos pengungsian, seperti masjid, TPQ maupun musala yang tidak tergenang. Ada juga sekitar 22 tenda dari terpal dan MMT bekas yang dibuat warga di sepanjang tanggul sungai. Satu tenda diisi satu keluarga. Tidak sedikit juga warga yang ngekos di daerah lain,” terang Kuntari.