SERBAHALAL: Sejumlah anggota Tasbih Semarang saat membuka layanan penukaran uang tanpa ambil untung. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SERBAHALAL: Sejumlah anggota Tasbih Semarang saat membuka layanan penukaran uang tanpa ambil untung. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SERBAHALAL: Sejumlah anggota Tasbih Semarang saat membuka layanan penukaran uang tanpa ambil untung. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SERBAHALAL: Sejumlah anggota Tasbih Semarang saat membuka layanan penukaran uang tanpa ambil untung. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Komunitas Bisnis Halal (Tasbih) beranggotakan para pebisnis mulai usaha kelontong hingga pengekspor. Dalam berbisnis, mereka tidak hanya berfokus pada keuntungan semata, namun juga menghindari sifat riba. Seperti apa?

SIGIT ANDRIANTO

TASBIH merupakan kumpulan para pemuda yang memiliki profesi sebagai pebisnis maupun mereka yang ingin menggeluti bisnis. Komunitas ini berdiri sejak setahun yang lalu dengan tujuan untuk belajar bersama mengenai bisnis yang tidak hanya menekankan pada keuntungan semata, namun juga memperhatikan kehalalan bisnis yang mereka jalankan.

”Ya, itu yang melatarbelakangi mengapa kami menamakan Tasbih atau Komunitas Bisnis Halal. Pada dasarnya kami ingin menekankan pada kehalalan bisnis kita. Tidak hanya keuntungan, namun kita menekankan pada anggota agar menjalankan bisnis secara halal,” ujar Ahmad Muslim, pembina komunitas ini kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Kriteria bisnis halal yang ditekankan kepada anggotanya adalah pada produk, sistem, dan juga modal yang kesemuanya harus halal untuk digunakan dalam menjalankan bisnis. Dalam kegiatannya, komunitas yang memiliki anggota sekitar 150 orang pebisnis di Semarang ini selalu memberikan edukasi mengenai bisnis syariah.

”Niat utama kami, selain meraih keuntungan, juga ingin meraih pahala. Sehingga prinsip kami dalam berbisnis adalah harus jujur. Katakan semua keburukan, tidak boleh menutup-nutupi,” tandasnya.