Korsleting Listrik selalu Jadi Penyebab Kebakaran

Mudik Lebaran, Waspadai Pasar Terbakar

343

”Kalau PKL di sini pakainya listrik pulsa, iuran sendiri, mereka memasang sendiri kabel-kabelnya. Ya, sambung-menyambung menjadi satu. Sebenarnya ini membahayakan, tapi bagimana lagi. Sampai saat ini, belum ada penataan kebel listrik PKL. Soalnya, kalau mau dibuatkan jaringan ya susah. PKL-nya nggak hanya di sekitar pasar saja, tapi tersebar,” katanya.

Totok mengungkapkan, pihaknya telah mengajukan ke Dinas Pasar untuk melakukan pembenahan. Razia dari dinas juga dilakukan untuk mengontrol instalasi listrik di pasar yang terkena proyek pelebaran jalan ini. Temuan kabel atau lampu tidak standar kerapkali dibawa oleh petugas Dinas Pasar agar tidak digunakan kembali oleh pedagang. Namun ia mengatakan bahwa aktivitas pengontrolan tersebut sifatnya tidak rutin.

”Biasanya petugas terjun ke lapangan, keliling pasar untuk mengingatkan pedagang agar mengganti kabel yang membahayakan tersebut. Kalau ada apa-apa, yang rugi kan semuanya,” ujarnya.

Sebagian pedagang menggunakan jatah dari pasar tersebut untuk kebutuhan losnya dengan menambah beberapa aliran listrik lagi. Namun ada beberapa yang merasa kurang dengan jatah satu MCB, sehingga mereka pasang meteran sendiri dari PLN. Dengan alasan bahwa dengan memasang sendiri, mereka mampu menghemat biaya. Jika menggunakan jatah dari pasar, mereka harus membayar Rp 50 ribu setiap bulannya dengan jatah 100 watt.

”Kalau pasang sendiri saya bisa menggunakan lampu, kipas dan televisi, watt-nya tidak terbatas, dan sebulan hanya kena Rp 25 ribu. Kan lebih hemat kalau saya pasang sendiri,” ujar Tri Hanani, yang berjualan di Pasar Jatingaleh sejak 25 tahun lalu.

Titus Subroto, pedagang material yang sudah berjualan sejak 10 tahun lalu hingga kini masih menggunakan jatah listrik dari pasar. Untuk kebutuhan lain, ia hanya menambahkan colokan lagi. Pemasangan ini menjadikan beberapa kabel terlihat ruwet di dalam losnya.