Korsleting Listrik selalu Jadi Penyebab Kebakaran

Mudik Lebaran, Waspadai Pasar Terbakar

385
WASPADA KEBAKARAN: Pasar Karangayu Semarang yang akan segera direvitalisasi. Para pedagang mewaspadai terjadi kebakaran seperti Pasar Johar dan Kanjengan. Apalagi saat ditinggal mudik Lebaran mendatang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
WASPADA KEBAKARAN: Pasar Karangayu Semarang yang akan segera direvitalisasi. Para pedagang mewaspadai terjadi kebakaran seperti Pasar Johar dan Kanjengan. Apalagi saat ditinggal mudik Lebaran mendatang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
WASPADA KEBAKARAN: Pasar Karangayu Semarang yang akan segera direvitalisasi. Para pedagang mewaspadai terjadi kebakaran seperti  Pasar Johar dan Kanjengan.  Apalagi saat ditinggal mudik Lebaran mendatang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
WASPADA KEBAKARAN: Pasar Karangayu Semarang yang akan segera direvitalisasi. Para pedagang mewaspadai terjadi kebakaran seperti Pasar Johar dan Kanjengan. Apalagi saat ditinggal mudik Lebaran mendatang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Banyak pasar yang ditargetkan untuk direvitalisasi pemerintah, namun mendapatkan perlawanan dari para pedagang. Ujung-ujungnya pasar terbakar. Misalnya, Pasar Johar, Yaik dan yang terakhir Kanjengan. Kebakaran tersebut biasanya disebabkan oleh korsleting listrik atau instalasi listriknya semrawut. Nah, bagaimana nasib pasar lainnya di Kota Semarang yang hendak direvitalisasi seperti Pasar Karangayu, Jatingaleh dan Ngaliyan? Bagaimana kondisi instalasi listrik di pasar-pasar tradisional ini?

PARA pedagang pasar tradisional kerap dihantui isu relokasi dan revitalisasi. Apalagi jika kondisi pasar dinilai sudah tidak layak. Biasanya para pedagang ngotot melakukan penolakan. Khawatir sepi dan tidak mendapat kios/los yang strategis lagi. Namun ujung-ujungnya, pasar terbakar. Ironisnya, tak satu pun kejadian pasar terbakar diusut hingga tuntas. Sebab, masyarakat seringkali sudah bisa menebak kesimpulan aparat kepolisian terkait penyebab kebakaran pasar.

”Pasti kalau ada kebakaran pasar, penyebabnya selalu saja korsleting atau arus pendek listrik. Kalau nggak korsleting, biasanya faktor human error karena pembakaran sampah yang akhirnya kobaran api menyulut barang mudah terbakar. Polisi selalu saja mengeluarkan alasan klasik seperti itu. Selalu saja tak diusut hingga tuntas,” kata salah satu pedagang Pasar Ngaliyan Semarang, SM, 56, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (26/6).

Ia mempertanyakan kenapa polisi tidak pernah melihat dari sudut pandang lain. Misalnya mengusut siapakah yang seharusnya bertanggung jawab? ”Bagi saya, secara logika, korsleting itu tidak kuat untuk dijadikan alasan. Bisa dibuktikan kok, aliran listrik jika terjadi korsleting itu sudah secara otomatis akan terputus di meteran, listrik mati,” ujarnya.