Dalam menjalankan kegiatan ini, Ken dan kawan-kawannya tak jarang menghadapi berbagai kendala. Namun segala jenis kendala selalu dihadapi oleh Ken bersama-sama. Menurut mereka, kebersamaan membuat segala macam kesulitan terasa lebih mudah untuk dijalani. Yang terpenting, bagi Ken dan kawan-kawannya adalah mereka dapat memfasilitasi orang yang ingin membaca, mengingat minat baca orang Indonesia yang terbilang rendah.

Ruang baca dan diskusi ini disiapkan oleh Ken dan kawan-kawan sesederhana mungkin, namun tetap terasa nyaman. Meski sederhana dan terkesan membosankan, persiapan tetap memerlukan energi yang luar biasa, mulai dari fisik hingga psikis.

Hingga saat ini, tak sedikit mahasiswa lain yang mencibir apa yang dilakukan Ken dan kawan-kawannya tersebut. Banyak mahasiswa yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Ken adalah hal yang sia-sia atau membuang tenaga. Lantaran sudah ada perpustakaan di kampus, apa yang dilakukan Ken dinilai hanya membuang waktu saja. Tetapi, Ken dan kawannya tetap kukuh dengan niatnya, yakni menyediakan ruang untuk membaca di kampusnya.

”Mengganggu pemandangan lah, kelihatan kurang gawean dan sebagainya. Namun saya percaya, bahwa yang kami lakukan tidak akan sia-sia. Karena menurut kami belajar di kelas saja tidak cukup. Membaca apa yang disuruh dosen saja tidak cukup. Ada banyak hal di kehidupan ini yang harus dipelajari, ada banyak sekali buku di dunia ini yang harus kami baca, bahkan banyak sekali hal di dunia ini yang harus kami saksikan sendiri, dengan upaya menulis atau melakukan pergerakan yang lain,” terang pria yang sering merasa sedih jika buku yang dipinjam lama tidak dikembalikan.

Bersama dengan kawan-kawannya, halangan demi halangan dihadapi Ken dengan sabar. Terbukti hingga kini ”Perpustakaan Kamis” miliknya masih tetap beroperasi di gazebo B1 FBS Unnes. Sedikit kesulitan bagi Ken adalah ketika harus memindahkan dan menyiapkan buku. Persiapan tempat dan buku-buku yang bertambah banyak pun menjadi lebih berat dan memakan ruangan.