Dalam setiap gelarannya, terlihat banyak mahasiswa yang sibuk mencari-cari buku dan membaca meskipun hanya beralaskan tikar. Untuk diskusi sastranya, mereka yang datang pun berasal dari berbagai kalangan. Mulai dari alumni, lembaga mahasiswa, dosen, serta teman-teman Ken dari luar kampus.

”Sebagai mahasiswa, kami menyadari betul bahwa membaca buku sangat penting. Buku adalah jalan menuju pengetahuan. Apalagi sebagai mahasiswa sastra, kami harus banyak membaca dan mengetahui berbagai macam karya sastra mulai dari yang lokal, nasional, hingga internasional. Berikut juga isu-isu terkini yang berkaitan dengan sastra dan budaya,” katanya.

Pada awalnya, Ken hanya mampu menggelar buku miliknya yang hanya berjumlah tak lebih dari 100 judul buku. Namun kini perpustakaan yang dikelolanya telah memiliki koleksi buku hasil donasi dari teman-teman yang berjumlah lebih dari 200-an buku. Buku koleksinya terdiri atas berbagai macam tema. Mulai dari karya sastra, sejarah, teori-teori, dan majalah.

”Awalnya, hanya saya sendiri yang melakukan kegiatan ini, namun lambat laun banyak orang-orang yang mau support dan membantu, mulai dari mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan, ikut donasi buku di perpustakaan kami, hingga beberapa orang mau menjadi teman diskusi,” ujar pria yang terkenal dengan rambut gondrongnya ini.

Baginya, dengan menciptakan lapak ini, secara pribadi ia dapat menemukan sebuah ruang untuk memperoleh bahan bacaan (selain di perpustakaan kampus), ruang untuk berdiskusi, dan ruang untuk bertemu dengan banyak orang lain yang sama-sama tertarik dengan dunia perbukuan.