”Karena kebetulan saya memang suka menulis, saya ajak anak-anak mengejar prestasi di bidang tulis-menulis,” aku laki-laki kelahiran Kudus, 28 Agustus 1992 itu.

Arie mengakui, semua anak didiknya merupakan orang baru di bidang perlombaan tulis-menulis tingkat SMA. Kendati demikian, mereka yakin dengan semangat kerja keras serta usaha maksimal, apa pun bisa didapatkan. ”Hal pertama yang kami lakukan adalah memiliki figur. Dan saya mengambil peran tersebut dengan banyak menulis di media untuk memotivasi mereka,” sambungnya.

Tak diduga langkah pertama dinilai sukses. Tulisan Arie berhasil dimuat di berbagai media, mulai dari Warta Al Azhar (majalah instansi nasional), Mozas (majalah instansi internal), maupun portal-portal media online. Anak-anak pun bersemangat untuk menjadi seperti dirinya. ”Saya tidak melewatkan momentum ini. Saya kemudian rajin mencari informasi-informasi lomba menulis dan langsung saya bagikan kepada mereka,” terangnya.

Lomba pertama yang mereka ikuti adalah Lomba Menulis Surat Tingkat Nasional PT Pos Indonesia. Menurutnya, ada sekitar lima anak yang mengikutinya. Hasilnya pun tidak mengecewakan, salah satu di antara mereka berhasil memperoleh Juara III setelah mengalahkan dua puluh sembilan finalis lain dari seluruh Indonesia. ”Efeknya, anak-anak semakin bergairah mengikuti lomba-lomba lain hingga sekarang,” klaimnya.

Prestasi yang didapat anak didiknya semakin berlanjut. Setelah meraih Juara III Lomba Menulis Surat Tingkat Nasional PT Pos Indonesia 2016, tidak berselang lama berhasil menjadi Juara I Lomba Menulis Surat Tingkat Kota Semarang oleh DPRD Kota Semarang 2016. ”Kami juga berhasil menjadi Finalis Lomba Orasi Pancasila dalam Olimpiade Pancasila Unnes se-Jateng, DIJ dan Jatim,” ucapnya bangga.