TUTUP: Sejumlah kios di pasar penampungan sementara pedagang Pasar Peterongan terpaksa tutup karena sepi pembeli. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUTUP: Sejumlah kios di pasar penampungan sementara pedagang Pasar Peterongan terpaksa tutup karena sepi pembeli. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUTUP: Sejumlah kios di pasar penampungan sementara pedagang Pasar Peterongan terpaksa tutup karena sepi pembeli. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TUTUP: Sejumlah kios di pasar penampungan sementara pedagang Pasar Peterongan terpaksa tutup karena sepi pembeli. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Puluhan pedagang kembali menempati bangunan Pasar Peterongan yang telah dibongkar oleh Pemkot Semarang. Pantauan Jawa Pos Radar Semarang terdapat beberapa pedagang yang terdiri atas pedagang pakaian dan kebutuhan pokok kembali membuka kios di dalam pasar. Ketua Persatuan Pedagang dan Jasa Pasar (PPJP) Pasar Peterongan, Margiono, adalah satu dari puluhan pedagang yang kembali mendirikan kios di dalam pasar.

Dia mengatakan, hal itu dilakukan karena ia kesulitan mendapatkan pembeli di pasar penampungan sementara. Penghasilan yang mereka dapat tidak mencukupi untuk menutup biaya sewa kios. Sehingga ia dan beberapa pedagang lain memutuskan untuk kembali meskipun harus mengeluarkan biaya untuk mendirikan kios.

Alasan lain yang membuat mereka kembali berjualan ke dalam pasar adalah kecewa dengan janji pemkot yang tak kunjung terealisasi. Ia mengatakan, pemkot telah menjanjikan pasar akan selesai dibangun dalam waktu 7 bulan (per 31 Desember 2015). Namun, hingga kini pasar yang menjadi tempat para pedagang menggantungkan hidup masih terbengkalai.

”Janjinya dari Dinas Pasar dan pemkot, nyuwun sewu, dulu Pak Hendi (Wali Kota Hendrar Prihadi) menjanjikan Pasar Peterongan 7 bulan jadi dengan bangunan 3 lantai, katanya dibangun supaya Semarang lebih cantik. Tapi tidak terealisasi hingga saat ini. Sekarang, kami para pedagang juga punya hak untuk menuntut janjinya itu,” tegas Margiono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pasca dibongkar, pedagang diberikan tempat penampungan sementara di lantai II Pasar Inpres yang berada di belakang pasar. Mereka diberikan lapak berukuran 1,25 x 1,25 meter yang dirasa tidak cukup untuk berjualan oleh para pedagang. Beberapa pedagang yang tidak memiliki modal untuk mencari tempat lain pun terpaksa berdagang di kios yang diberikan dengan cara diundi tersebut. Sementara beberapa yang memutuskan untuk mencari lapak lain, belasan pedagang masih bertahan di tempat penampungan sementara.

”Awalnya beberapa pedagang menerima saja, karena telah dijanjikan 7 bulan jadi. Tapi sekarang? Malah sampai ada yang mobil dan tanahnya terjual karena sepi, Mas. Di penampungan itu sepi, kalau ramai ya kami jualan di atas. Ini kan mau lebaran, jadi kita turun, yang penting tidak di bawah itu yang roboh,” ujar Margiono.