Gangguan Jiwa, Dua Warga Temuroso Dipasung

Pemkab Bantu Penyembuhan Secara Medis di RSJ

253
MEMPRIHATINKAN: Bupati Demak HM Natsir didampingi Wabup Joko Sutanto, Kepala Dinsosnakertrans Bambang Saptoro dan Kepala Dinas Kesehatan dr Joko Sarwono menjenguk Sunardi penderita sakit jiwa yang masih dipasung dirumahnya, kemarin. (Wahib Priadi/Jawa Pos Radar Semarang)
MEMPRIHATINKAN: Bupati Demak HM Natsir didampingi Wabup Joko Sutanto, Kepala Dinsosnakertrans Bambang Saptoro dan Kepala Dinas Kesehatan dr Joko Sarwono menjenguk Sunardi penderita sakit jiwa yang masih dipasung dirumahnya, kemarin. (Wahib Priadi/Jawa Pos Radar Semarang)
MEMPRIHATINKAN: Bupati Demak HM Natsir didampingi Wabup Joko Sutanto, Kepala Dinsosnakertrans Bambang Saptoro dan Kepala Dinas Kesehatan dr Joko Sarwono menjenguk Sunardi penderita sakit jiwa yang masih dipasung dirumahnya, kemarin. (Wahib Priadi/Jawa Pos Radar Semarang)
MEMPRIHATINKAN: Bupati Demak HM Natsir didampingi Wabup Joko Sutanto, Kepala Dinsosnakertrans Bambang Saptoro dan Kepala Dinas Kesehatan dr Joko Sarwono menjenguk Sunardi penderita sakit jiwa yang masih dipasung dirumahnya, kemarin. (Wahib Priadi/Jawa Pos Radar Semarang)

DEMAK-Dua warga Desa Temuroso, Kecamatan Guntur mengalami gangguan jiwa akut. Akibatnya, oleh keluarga mereka terpaksa dipasung dalam rumah kosong. Keduanya adalah Abdul Hamid, 25, dan Sunardi, 45. Mereka terkena sakit jiwa dengan latar belakang masalah dan keluarga yang berbeda namun masih satu kampung.

Abdul Hamid misalnya, ia sakit jiwa lantaran tidak jadi menikah dengan wanita pujaannya akibat orang tua tidak memiliki biaya. Selain itu, yang bersangkutan sejak kecil juga sudah ada indikasi sakit jiwa. Namun, sakit yang dideritanya itu makin parah setelah keluarganya bertransmigrasi ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah (Kalteng). Ditempat perantauan itu, ia hendak menikahi perempuan setempat. Namun, apa daya, orang tuanya merasa tidak mampu untuk menikahkan anaknya tersebut.

Ibu Abdul Hamid, Marmonah, 57, warga RT 6 RW 6 Dukuh Krajan mengungkapkan, semula anaknya tersebut minta dikawinkan. “Tapi, waktu itu saya belum punya uang. Tidak tahunya malah sakit jiwa seperti ini. Dia juga sempat meninggal setengah hari setelah itu hidup lagi sampai sekarang,”ungkap Marmonah yang kondisi ekonominya serba kekurangan tersebut.

Menurutnya, karena sakit jiwa seperti itu dan agar anaknya tidak mengganggu keluarga dan tetangga, akhirnya Abdul Hamid dipasung di rumah. Tangannya dirantai supaya tidak mengamuk. Adik Abdul Hamid, Siti Mualimah menambahkan, karena sakit jiwa, kakaknya tersebut kemudian dibawa pulang ke Jawa, Desa Temuroso tersebut. “Dia sempat dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Semarang, namun terpaksa dibawa pulang lagi karena tidak kuat biaya,” katanya.