TENANG TANPA RAZIA: Pedagang daging ayam di Pasar Bulu, Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TENANG TANPA RAZIA: Pedagang daging ayam di Pasar Bulu, Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TENANG TANPA RAZIA: Pedagang daging ayam di Pasar Bulu, Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TENANG TANPA RAZIA: Pedagang daging ayam di Pasar Bulu, Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG — Selama Ramadan dan menjelang Lebaran, marak dilakukan sidak (operasi mendadak) dan razia makanan dan minuman kedaluwarsa maupun yang mengandung bahan berbahaya bagi kesehatan. Kegiatan rutin ini dinilai hanya formalitas saja dan tidak menimbulkan efek jera. Sebab, kegiatan sidak tidak diimbangi dengan sanksi tegas terhadap para pelanggar. Akibatnya, kasus serupa selalu terulang setiap tahun. Mulai ditemukan daging gelonggongan, hati sapi mengandung cacing, makanan dan minuman kedaluwarsa, takjil mengandung pewarna tekstil (Rhodamin), mie mengandung bahan pengawet boraks atau formalin, dan sebagainya.

”Kalau menurut saya, sidak itu hanya kunjungan pasar saja. Bisa saja hanya ngopyak-opyak pedagang agar tidak menaikkan harga,” ungkap Taryono, pedagang pasar di daerah Semarang Tengah kepada Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (14/6) kemarin.

Dia mengatakan, sidak yang dilakukan pemerintah juga hanya dilakukan pada waktu tertentu. Seharusnya sidak bisa dilakukan secara rutin untuk memantau baik kelayakan barang maupun terkait fluktuasi harga.

”Ya, seringnya kan waktu awal puasa sampai mendekati Lebaran. Kalau hari-hari biasa kan jarang. Terus kalau hari-hari biasa kenapa tidak disidak? Kalau saya menganggap, kerja melakukan sidak ini hanya setahun sekali atau musiman saja,” katanya.

Pedagang lain, SN, mengatakan, kegiatan sidak yang dilakukan pemerintah terhadap pasar maupun swalayan sangat minim. Sehingga, banyak waktu luang yang lebih dimanfaatkan para oknum untuk melakukan pelanggaran baik distributor pemasok maupun pedagangnya sendiri.