BERCENGKERAMA: Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu saat meninjau langsung kondisi Panti Rehabsos Among Jiwo yang telah overload. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERCENGKERAMA: Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu saat meninjau langsung kondisi Panti Rehabsos Among Jiwo yang telah overload. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERCENGKERAMA: Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu saat meninjau langsung kondisi Panti Rehabsos Among Jiwo yang telah overload. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERCENGKERAMA: Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu saat meninjau langsung kondisi Panti Rehabsos Among Jiwo yang telah overload. (AHMAD FAISHOL/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Panti Rehabilitasi Sosial (Rehabsos) Among Jiwo yang selama ini digunakan untuk menampung para pengemis, gelandangan, dan orang-orang telantar (PGOT) serta anak jalanan di Kota Semarang kondisinya cukup memprihatinkan. Sebab, bangunan itu sudah tidak mampu lagi menampung para penghuni di dalamnya.

Ha tersebut diungkapkan Kepala Panti Rehabsos Among Jiwo Semarang, M. Ridwan saat menerima kunjungan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, Senin (13/6). Hadir juga dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga (Dinsospora) Kota Semarang, Gurun Risyadmoko.

Ridwan menjelaskan, saat ini jumlah penghuni mencapai 98 orang. Padahal, idealnya, bangunan tersebut hanya mampu menampung 50 orang. Kendati demikian, pihaknya mengaku tidak dapat menolak ketika jika mendapat tambahan PGOT dan anak jalanan yang baru saja terjaring razia. ”Karena memang tidak ada tempat lain selain di sini,” katanya.

Ia menambahkan, khusus untuk anak-anak jalanan hanya diberikan waktu untuk rehabilitasi maksimal selama tujuh hari. Jika yang bersangkutan kembali ke jalan maka langsung dikembalikan ke daerah asalnya. ”Karena keterbatasan tempat, saat ini beberapa penghuni terpaksa dijadikan satu dengan yang mengalami gangguan jiwa,” katanya.