Pedagang kios kelontong di Terminal Terboyo, Ambar, mengakui, bangunan terminal banyak yang rusak dan sudah tidak layak. Namun dirinya masih bersyukur bisa berjualan di dalam terminal, meski akhir-akhir ini sepi pembeli lantaran banyak penumpang yang naik dan turun di luar terminal.

”Kami sekarang sepi Mas. Kalau ndak temene sendiri yang beli, ndak dapat uang. Penumpang banyak diturunin di depan (jalan masuk terminal, Red). Kami berharap penumpang diturunin di dalam terminal. Di sini penumpangnya masuk terminal cuma pas hujan karena ada tempat berteduhnya,” kata anggota Persatuan Pedagang dan Jasa (PPJ) Wilayah Terboyo.

Selanjutnya, Agen Bus Safari, Darpo mengaku, belum mengetahui akan adanya perubahan pengelolaan terminal. Namun demikian, apabila memang terjadi perubahan pengelolaan oleh pemerintah pusat, ia sebagai salah satu penghuni terminal mengaku setuju saja, dengan catatan lebih baik dari pengelolaan yang sekarang.

”Siapa pun yang mengelola Terminal Terboyo, inginnya ya lebih baik. Tapi semua sama saja, mulai tahun 2000 ke sini semrawut pengelolaannya. Kami kecewa karena penumpang banyak dihentikan di depan (Kaligawe),” kata Darpo yang menjadi agen di Terboyo sejak 1986 ini.

Darpo juga menyebutkan sejak 25 Mei hingga saat ini rob datang terus, sehingga penumpang semakin sepi yang masuk terminal. Ia juga berharap nantinya pengelolaan terminal bisa seperti Surabaya dan Pulau Gadung, Jakarta yang sekarang.

”Sekarang kering 3 hari, nanti air masuk lagi. Jadi penumpang sepi. Selain itu, sekarang mau dikelola kepala terminalnya siapa saja, sama saja. Terbukti banyak penumpang dihentikan didepan jalan (Kaligawe), tidak ada yang berani memberi tindakan,” ungkapnya kesal.