Pertanyaan :
Assalamu’alaikum Warahmatullah Pak Kiai, sekarang ini banyak tayangan TV yang menonjolkan aurat. Sementara itu, dalam bulan Ramadan kami tanpa sadar menontonnya. Apakah hal ini akan mengurangi hikmah ibadah puasa? Terimakasih atas jawabannya.
Haryanto di Penggaron 081918613xxx

Jawaban :
BAPAK Haryanto yang saya hormati, Kendati ulama berbeda pendapat tentang batas aurat, namun yang jelas bahwa membuka apalagi mempertontonkan bagian-bagian tubuh yang dapat menimbulkan rangsangan birahi adalah perbuatan yang haram dan haram pula untuk dilihat apalagi dengan sadar dan sengaja. Memang, melihatnya tanpa sadar atau sengaja dapat ditoleransi dan inilah antara lain yang dimaksud oleh Nabi dengan pandangan awal atau pertama ditoleransi. Sedang pandangan kedua, yaitu melihatnya secara sadar dan dengan maksud melihat, itu yang diharamkan. Duduk di depan TV atau menonton gambar hidup lainnya yang mengandung tayangan yang menonjolkan aurat, kendati tidak sepenuhnya sama dengan melihatnya dalam kenyataan hidup, namun ia pun dapat mengakibatkan dampak buruk yang sama. Karena itu, hal ini harus dihindari.

Puasa adalah upaya menahan nafsu makan, minum, dan seks yang halal sekalipun, apalagi yang haram. Menonton tayangan yang menonjolkan aurat atau yang merangsang timbulnya birahi, bertentangan dengan substansi puasa, walaupun itu tidak membatalkannya, karena yang membatalkan puasa dari segi hukum, antara lain hanyalah makan, minum, berhubungan seks atau keluarnya sperma. Namun demikian, apa yang bapak tanyakan di atas bertentangan mengenai substansi puasa, maka jelas itu mengurangi nilai puasa, dan memang seperti sabda Nabi SAW: “Banyak yang berpuasa tetapi tidak memperoleh dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.“ Akhirnya, kita dapat bertanya, apakah yang menonton TV itu benar-benar tidak sadar atau tidak tahu bahwa itu terlarang atau sebenarnya dia sadar dan memang sengaja menontonnya? Saya khawatir yang kedualah yang banyak terjadi. Semoga kita semua terhindar dari hal tersebut. Demikian Semoga bermanfaat dan barokah jawaban saya ini, Amin. (*/ida)