Persoalan banjir dan rob masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemkot Semarang. Segala upaya terus dilakukan pemkot untuk menanggulangi permasalahan yang sebagian besar melanda Semarang wilayah utara dan timur itu.

Untuk mengatasi rob sejumlah langkah nyata telah dilakukan pemkot untuk melindungi warganya, seperti menambah jam operasional penyedotan genangan dengan mesin pompa portable, meningkatkan kapasitas polder, hingga normalisasi drainase dengan melakukan pengerukan saluran, memasang karung pasir sebagai tanggul sementara. Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (PSDA ESDM) telah bekerja keras siang dan malam, namun untuk tahun ini belum membuahkan hasil yang cukup signifikan.

Beberapa minggu terakhir ini Kota Semarang memiliki problem yang cukup urgent mengenai rob, khususnya di wilayah timur seperti di Kaligawe, Genuk, Sawah Besar, Progo, Kalibaru, dan sekitarnya. Air mulai masuk ke perkampungan, jalan dan fasilitas umum. Penampang sungai sudah penuh air. Air rob masuk dari celah tanggul yang posisinya rendah. Sebenarnya masalah rob tidak hanya terjadi di Kota Semarang saja, tetapi kota lainnya bahkan di Jakarta ketinggian air rob mampu membobol tanggul pengaman sehingga perumahan elit terendam rob dan ada 23 titik daerah rawan rob, juga Surabaya, Pekalongan, Cilacap kemudian Demak.

Rob tidak seperti tahun-tahun sebelumnya menurut BMKG ini merupakan siklus tahunan karena pengaruh gravitasi matahari dan bulan. Kondisi alam membuat rob cukup tinggi menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan hal ini terjadi dikarenakan pengaruh iklim dan ini tidak hanya terjadi di Semarang tetapi juga terjadi di negara-negara Pasifik yang kotanya berbatasan langsung dengan laut. Pemkot sendiri telah menyiapkan langkah penanganan, jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.

Menurut Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, yang paling tepat harus dibuatkan polder di masing-masing hilir, baik Kali Babon, Kali Sringin, Kali Tenggang, Kali Banger, dan Banjir Kanal Timur (BKT). Ditegaskan wali kota, harus ada upaya yang dilakukan pemkot dalam jangka menengah. “Pemerintah pusat sudah siap membantu normalisasi BKT, sementara kami di pemkot akan menyelesaikan polder Banger, dan tiga sungai sisanya seperti Kali Babon, Sringin, dan Tenggang, harus ditangani dalam waktu dekat,” terangnya.

Pemkot sudah melaporkan langkah penanganan tersebut ke Gubernur Jawa Tengah. Dan Ganjar Pranowo pun sudah memanggil SKPD terkait, mulai dari Bappeda, PSDA, hingga Pekerjaan Umum (PU). “Provinsi akan bantu pemkot untuk penanganan tiga sungai di wilayah timur ini, Sringin, Babon, Tenggang,” tandasnya.

Sistem Polder Banger diyakini berdampak positif pada 85 ribu warga di sekitar polder yang terkena rob dan banjir. Polder Banger dengan catchment area 543 hektare meiliputi 10 kelurahan di Kecamatan Semarang Timur, pengelolaan polder dilakukan oleh sebuah lembaga yaitu Badan Pengelola Polder Banger Semarang (BPPB SIMA). Jika pembangunan Polder Banger selesai maka akan berdampak ke penanganan banjir pada wilayah seluas 543 hektare. “Saat ini mesin pompa sudah datang, tahun ini pembuatan tanggul, tahun depan pembangunan polder,” terang Hendi, sapaan akrab Hendrar Prihadi.

Sementara untuk proses normalisasi BKT, wali kota menyebutkan, untuk persoalan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dan Larap semua sudah clear. Tahun depan (2017) tahap pembebasan lahan dan tahun 2018 dilakukan pembangunan fisik. “Kalau Kali Tenggang, Sringin, dan Babon kita kebut pembuatan DED-nya (Detail Engineering Design) dan ditargetkan 2019 proyek bisa berjalan,” tandasnya.

Sebagai penanganan jangka pendek pemkot melalui Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Energi Sumber Daya Mineral (PSDA ESDM) mengandalkan sistem pompanisasi. Tercatat ada 106 mesin pompa yang tersebar di 42 rumah pompa. Selain itu juga memiliki 12 pompa portable yang siap diterjunkan membantu masyarakat yang wilayahnya terendam banjir maupun rob.

Selain melakukan dengan sistem pompa, pemkot juga melakukan penanganan darurat. Yakni menutup tanggul-tanggul yang kondisinya rendah menggunakan karung pasir, seperti di titik Kali Banger, Kali Tenggang, Ringin Lama, Kaligawe, Madukoro, dan Semarang Indah. Sehingga air tidak meluber hingga ke jalan dan permukiman warga. “Penanganan jangka pendek juga kita lakukan, seperti melakukan pengerukan terhadap sedimentasi sungai, drainase tersumbat sampah dibersihkan, tanggul yang rendah ditahan dengan karung pasir, dan setiap Jumat digalakkan gotongroyong, mulai dari SKPD, lurah camat kita gerakkan,” tegasnya.

Diketahui, pada tahun 2015 Dinas PSDA ESDM Kota Semarang memiliki 118 unit pompa, jumlah tersebut meningkat dibanding tahun 2014 yang memiliki 116 unit pompa. Dan tahun 2016 ini Dinas PSDA ESDM telah mengajukan penambahan mesin pompa portable. Peningkatan juga terjadi pada kapasitas polder yang meningkat dari 12.000.000 liter di tahun 2014 menjadi 12.001.200 liter di tahun 2015. Kapasitas total pompa air juga meningkat dari 76.405 liter pada tahun 2014 menjadi 77.605 liter pada tahun 2015.

Pada tahun 2015, dilaksanakan pembangunan dan peningkatan saluran di 10 ruas, yaitu peningkatan Talud Perum BMP; peningkatan saluran Kampung Melayu; peningkatan sub sistem Bandarharjo; talud saluran Banget Ayu Wetan; peningkatan saluran Imam Bonjol; pembangunan Talud Jalan Lingkar Tanjung Mas; peningkatan Saluran drainase Jalan RM. Hadi Subeno; pembangunan saluran Drainase Kawasan Sigarbencah Tahap II; pembangunan saluran Pembuangan RPU Penggaron; dan pembangunan saluran pembuangan Pasar Bulu. Selain itu juga dilaksanakan pemeliharaan saluran drainase melalui kegiatan operasional dan pemeliharaan drainase yang di tahun 2015 telah dilaksanakan pemeliharaan saluran di 220 ruas saluran. (PIPRB)