Sejumlah upaya jangka pendek akan ditempuh Pemkot Semarang guna mengurangi rob dan banjir. Misalnya, dengan menutup tanggul yang posisinya rendah dengan karung berisi tanah dan pasir. Kemudian menurunkan alat-alat berat untuk pengerukan sedimen sungai, sehingga akan lebih banyak lagi daya tampung airnya. Selain itu juga mengaktifkan pompa-pompa portabel yang dimiliki Dinas PSDA dan ESDM ke wilayah yang terkena rob dan banjir.

Sedang jangka panjang, lanjut dia, pemkot akan menormalisasi 5 kali besar yang berhubungan dengan laut, yakni Kali Tenggang, Kali Banger, Kali Banjir Kanal Timur (BKT), Kali Sringin dan Kali Babon.

”Kali Banger sedang dikerjakan, akhir tahun ditargetkan sudah selesai dan tahun depan tinggal finishing. Kali Tenggang dalam tahap pembebasan lahan, BKT sedang dalam tahap LARAP dan uji Amdal. Tinggal Kali Sringin dan Kali Babon yang sedang dikomunikasikan ke Pemprov Jateng dan pemerintah pusat agar ada upaya bantuan untuk menanggulangi kedua kali tersebut,” urai wali kota.

Dikatakan, jika kelima sungai sudah jadi, maka jika ada genangan tinggal dipompa ke lima sungai tersebut, yang kemudian air akan dibuang ke laut. Namun yang masih menjadi kendala adalah pembebasan lahan.

Untuk itu, wali kota meminta kepada warga agar lebih legawa yang tanahnya terkena pembebasan normalisasi ke lima sungai tersebut.

”Kami meminta kepada warga agar lebih legawa bila tanahnya akan terkena pembebasan lahan untuk normalisasi ke lima sungai itu. Bila warga segera menyerahkan tanahnya untuk pembangunan 5 sungai tersebut, kami pun akan memberikan harga ganti rugi yang pantas. Sehingga kami akan dapat segera melakukan normalisasi ke lima sungai tersebut,” tegas Hendi.