MANGKRAK: Kondisi salah satu shelter BRT di jalur Ungaran-Bawen yang memprihatinkan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGKRAK: Kondisi salah satu shelter BRT di jalur Ungaran-Bawen yang memprihatinkan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGKRAK: Kondisi salah satu shelter BRT di jalur Ungaran-Bawen yang memprihatinkan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MANGKRAK: Kondisi salah satu shelter BRT di jalur Ungaran-Bawen yang memprihatinkan. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Puluhan shelter Bus Rapid Transit (BRT) Aglomerasi rute Semarang-Bawen, Kabupaten Semarang kini kondisinya mengenaskan. Keberadaan shelter tersebut hingga kini belum dimanfaatkan, lantaran belum tersedianya armada bus. Alhasil, bangunan shelter BRT itu pun menjadi ajang corat-coret pelaku vandalisme. Hal itu semakin menambah kesan kumuh shelter.

Seorang warga Kelurahan Bandarjo, Lilis Sendari, 37, mengatakan, mangkraknya shelter ‎tersebut juga memengaruhi pemanfaatan moda transportasi oleh masyarakat.

”Shelter di sepanjang Ungaran hingga Bawen memang belum terpakai. Saat ini, masyarakat masih memanfaatkan angkutan umum lainnya,” kata Lilis kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (8/6).

Ia juga menyayangkan kondisi shelter BRT yang kumuh. Padahal jika dioptimalkan, BRT menjadi salah satu moda alternatif untuk transportasi. Sehingga masyarakat tidak perlu bingung jika ingin bepergian.

Pengamatan di lapangan, beberapa shelter tersebut bahkan ada yang ambruk serta kacanya mengalami pecah. Selain itu, di beberapa shelter juga digunakan sebagai tempat singgah para gelandangan dan pengemis (gepeng).

Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Semarang, Prayitno Sudaryatno, mengatakan, pengelolaan shelter BRT tersebut merupakan kewenangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. ”Kabupaten Semarang hanya menyiapkan tempatnya saja,” ujar Prayitno.