Dugderan dan Enkulturasi Tradisi

363

Oleh: Djawahir Muhammad

SENIN, 6 Juni 2016 ini adalah bertepatan 1 Ramadan 1437 H. Bersyukurlah kita bahwa permulaan bulan puasa 1476 H atau 2016 ini disepakati bersama oleh pemerintah dan organisasi-organisasi umat Islam. Tidak ada perbedaan yang timbul pada perhitungan hisab dan rukyah yang menjadi dasar atau metode yang dipakai.

Pada dasarnya, persamaan tersebut telah membawa manfaat bagi masyarakat umum, yakni pertama; hilangnya konflik internal antar mazhab (pengikut) hisab (matematis) dan mazhab rukyah (inkuiri, natural). Kedua; mempermudah panitia-panitia penyelenggara kegiatan bulan Ramadan dalam membuat random/ jadwal kegiatan yang lebih pasti. Semisal jadwal penentuan karnaval Dugder Semarang 2016 atau 1437 H.

Mengapa? Pembacaan suhuf halaqah sebagai wara-wara atau maklumat permulaan Ramadan oleh Kanjeng Bupati Semarang KRMT Ario Purboningrat dan Kanjeng Gubernur Jawa Tengah GPH Probokusumo yang idealnya jatuh pada H-1 permulaan Ramadan, tidak perlu diperdebatkan lagi. Alias tidak usah menunggu keputusan rapat Dewan Isbat Kementerian Agama RI. Atau memperpanjang waktu penyelenggaraan karnaval menjadi H-2 seperti dua-tiga tahun yang lalu.

Tetapi yang tidak kalah penting adalah, penyelenggaraan dugderan yang sudah berlangsung sejak zaman Bupati Semarang KRMT Ario Purboningrat pada 1891, sampai sekarang masih terus berlangsung. Secara historis, kegiatan ini merupakan rekonstruksi sejarah, khususnya kegiatan sosial-budaya yang berbasis religiositas ”wong Semarang”.

Kedua, event dugderan memiliki nuansa sebagai event wisata budaya Semarang yang khas, memiliki fungsi ekonomis berupa pasar berbagai produk industri kecil, memiliki unsur hiburan, khususnya bagi anak-anak. Dugderan juga sebagai bentuk peran serta masyarakat menyambut bulan suci Ramadan, juga sebagai kegiatan yang dianggarkan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang. Dari beberapa kali penyelenggaraan dugder- sekurang-kurangya dalam lima tahun terakhir- kita mencatat beberapa hal sebagai berikut:

Kegiatan formal yaitu pelepasan karnaval dugderan di Balai Kota oleh Kanjeng Bupati Semarang KRMT Ario Purboningrat (yang diperankan oleh Wali Kota Semarang) agak dipaksakan oleh penyelenggara, dan banyak kehilangan nuansa tradisionalnya. Berbagai acara seperti laporan ketua penyelenggara, pemukulan beduk sebagai pertanda pelepasan peserta karnaval, tambahan acara demonstrasi drum band, serta tidak fokusnya tema dugderan oleh peserta karnaval membuat acara ini telah kehilangan ruhnya sebagai peristiwa budaya yang berbasis religius Islami.

Kurang fokusnya acara halaqah (”sidang isbat” lokal) dan pembacaan suhuf halaqah oleh para ulama di Masjid Agung Semarang, serta pembacaan suhuf (lembaran dokumen) halaqah disertai pemukulan beduk oleh Kanjeng Bupati Semarang (yang menjadi inti acara), kalah pamor dengan pembagian kue ganjel rel serta air khataman yang merupakan acara tambahan. Nuansa tradisional yang diharap menjadikan acara ini menjadi acara yang sakral telah mengurangi fungsi masjid sebagai centre of event.

Pidato-pidato dalam bahasa Jawa dalam acara penyerahan halaqah oleh Kanjeng Bupati Semarang kepada Kanjeng Gubernur Jateng di Masjid Agung Jawa Tengah kurang fasih. Jumlah peserta dan penonton karnaval Dugderan di jalan-jalan serta pengunjung di Masjid Besar Semarang/ Masjid Agung Jawa Tengah semakin berkurang.

Menurut laporan beberapa media massa, pada 2004 tahun pertama penyelenggaraan Dugderan di Masjid Agung Semarang dan penyelenggaraan pertama dugderan di MAJT jumlah pengunjung lebih dari 10 ribu orang. Jumlah ini berkurang hingga tinggal separonya pada penyelenggaraan 2016 ini. Penjual warak ngendog di arena dugderan makin sedikit, sementara warak ngendognya telah mengalami berbagai deformasi bentuk.

Tanpa mengurangi catatan-catatan di atas, bagaimanapun kita wajib bersyukur bahwa event dugderan ini masih terus berlangsung hingga mencapai satu seperempat abad lamanya (1891-2016). Insya Allah, dengan melakukan perbaikan pelaksanaannya, event ini akan dapat menjadi media enkulturasi (pewarisan nilai-nilai) khususnya kepada generasi muda dan masyarakat Semarang pada umumnya.

Ramadan ya Ramadan, ji’ta ilaina wa bil ghufron! (*/aro/ce1)