APBD Baru Terserap 26,45 Persen

Terpengaruh Rasionalisasi Anggaran

277

SEMARANG – Penyerapan Anggaran Pendapatan dan Belanja Dareah (APBD) Jawa Tengah 2016 tergolong lamban. Hingga akhir Mei, anggaran baru terserap 26,45 persen dari total Rp 22,4 triliun. Bisa jadi, penyerapan anggaran ini tidak bisa mencapai 100 persen hingga akhir tahun.

Tahun lalu, penyerapan anggaran berhenti di angka 90,78 persen dari total belanja Rp 19,6 triliun. Akibatnya, sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) menjadi tinggi. Terlebih tahun ini, Pemprov Jateng melakukan rasionalisasi sebesar 25 persen yang membuat seluruh SKPD harus lebih cermat dalam menggunakan anggaran.

Kepala Biro Keurangan Pemprov Jateng, Arif Sambodo menuturkan, efektivitas penyerapan APBD tidak jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, kecenderungan di awal tahun, memang masih sangat rendah. Tapi begitu triwulan kedua, akan meningkat. ”Ini seperti tahun lalu. Dan tahun lalu hanya mencapai 90,78 persen saja,” bebernya ketika ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Rabu (1/6).

Tidak tercapainya angka 100 persen itu lanjutnya, dikarenakan beberapa kendala. Terutama terkait pemberian dana hibah yang harus berbadan hukum. Dari pengalaman tahun kemarin, dia telah mengantongi beberapa evaluasi.

Arif meminta, seluruh SKPD melakukan pengadaan sesegera mungkin. Dengan begitu, pengadaan tidak akan menumpuk di akhir tahun. Terkait pendorongan pendapatan, pemerintah harus mengupayakan terobosan-terobosan optimal. ”Tahun lalu lebih karena kendala aturan atau kebijakan. Sebenarnya, soal hibah, kalau memang normatif bisa dilaksanakan, tidak masalah. Tapi harus hati-hati,” tegasnya.

Menurutnya, penyerapan ini cukup terganggu dengan adanya rasionalisasi sebesar 25 persen. Sebab ada prediksi tahun ini tidak mencapai target Pendapatan Asli Daerah (PAD). Karena itu, dia mengimbau kepada seluruh SKPD untuk melakukan self blocking atau penghematan. Belanja hanya sesuai dengan kebutuhan saja.