SUSUKAN–Pemkab Semarang terus mendorong berdirinya Perpustakaan Desa (Perpusdes). Hal tersebut untuk meningkatkan tingkat baca masyarakat, sehingga mengurangi kemiskinan warga.

“Warga yang bisa membaca akan memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk meningkatkan kesejahteraannya,” kata Wakil Bupati (Wabup) Kabupaten Semarang, Ngesti Nugraha saat penilaian lomba perpustakan desa tingkat Jawa Tengah, Senin (30/5) kemarin. Pada kesempatan tersebut, Perpusdes Desa Timpik Kecamatan Susukan berhasil terpilih menjadi enam Perpusdes se-Jawa Tengah.

Kepala Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Semarang, Nelly Rahmawaty mengatakan bahwa meski baru seumur jagung, Perpusdes Timpik telah mampu menunjukkan kiprahnya mencerdaskan warga. “Perpustakaan yang dirintis sejak tahun 2012 oleh beberapa tokoh perempuan di desa perbatasan dengan Kecamatan Kaliwungu ini memiliki aspek kemandirian yang tinggi,” kata Nelly.

Kemandirian para pengelola antaralain berinisiatif mendirikan Perpusdes tanpa menunggu bantuan dari pihak luar. Berdasarkan dari hasil penilaian administrasi wakil perpustakaan dari 35 kabupaten/kota, telah terpilih enam yang terbaik. Yakni wakil dari Kabupaten Sukoharjo, Sragen, Cilacap, Kebumen, Wonosobo dan Semarang. “Setelah peninjauan lapangan untuk mencocokkan data administrasi yang kami terima dengan kondisi nyata, akan ditentukan satu perpustakaan terbaik,” katanya.

Dari beberapa indikator penilaian, aspek kemandirian memiliki nilai yang cukup tinggi. Diakuinya, hingga saat ini masih banyak warga terutama di wilayah pedesaan yang belum memiliki akses untuk membaca buku-buku berisi ilmu pengetahuan. Karenanya, keberadaan perpustakaan desa menjadi salah satu layanan lini terdepan untuk menyediakan bahan bacaan bermutu bagi warga desa. “Diperlukan kreativitas dari para pengelola perpustakaan desa agar warga mau datang untuk membaca buku. Beberapa jenis layanan di Perpusdes Timpik ini cukup kreatif,” katanya.