KONSULTASI GRATIS: Sejumlah masyarakat tengah melakukan konsultasi terkait asupan gizi yang sebaiknya dikonsumsi dalam event Edukasi Gizi Untuk Masyarakat Awam oleh AsDI DPD Jateng. (IST)
KONSULTASI GRATIS: Sejumlah masyarakat tengah melakukan konsultasi terkait asupan gizi yang sebaiknya dikonsumsi dalam event Edukasi Gizi Untuk Masyarakat Awam oleh AsDI DPD Jateng. (IST)
KONSULTASI GRATIS: Sejumlah masyarakat tengah melakukan konsultasi terkait asupan gizi yang sebaiknya dikonsumsi dalam event Edukasi Gizi Untuk Masyarakat Awam oleh AsDI DPD Jateng. (IST)
KONSULTASI GRATIS: Sejumlah masyarakat tengah melakukan konsultasi terkait asupan gizi yang sebaiknya dikonsumsi dalam event Edukasi Gizi Untuk Masyarakat Awam oleh AsDI DPD Jateng. (IST)

SEMARANG – Tak hanya gizi buruk, gizi berlebih juga tidak baik untuk kesehatan. Gizi berlebih mengakibatkan risiko terkena penyakit degeneratif.

Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persadi) DPD Jawa Tengah Bambang Supangkat di sela Edukasi Gizi Untuk Masyarakat Awam yang diselenggarakan di Jalan Pahlawan kemarin mengungkapkan, asupan gula, garam, dan lemak berlebih membuat kemunduran fungsi organ tubuh berlangsung lebih cepat. ”Gizi tak seimbang mengganggu metabolisme tubuh. Penumpukan kolesterol dalam darah menyebabkan pembuluh darah terganggu dan memicu penyakit jantung,” ungkap Bambang.

Sejumlah penyakit degeneratif lainnya yang dipicu oleh asupan gula, garam dan lemak berlebih di antaranya hipertensi, diabetes mellitus, hipertensi dan stroke. “Gaya hidup modern mendorong orang gemar mengkonsumsi makanan cepat saji. Padahal, makanan itu kebanyakan mengandung kadar gula, garam, dan lemak tinggi,” terangnya.

Apalagi jika seseorang kurang beraktivitas fisik. Kalau ada aktivitas olahraga, kelebihan kalori bisa dibakar. Kemajuan teknologi membuat aktivitas fisik lebih sedikit sehingga penyakit degeneratif seperti stroke tak hanya dialami orang berusia lanjut. Indonesia. ”Banyak anak muda kena stroke dan jantung karena perilaku hidup tak sehat,” katanya.

Ketua Asosiasi Dietisen (AsDI) DPD Jawa Tengah Imam Kukuh menambahkan,sebaiknya masyarakat lebih cermat membaca label makanan kemasan guna mengetahui jumlah gizi dalam produk. Perhatikan jumlah lemak dalam label. Lebih baik memilih makanan berlabel rendah lemak. “Mengingat, selama ini masyarakat cenderung hanya memperhatikan tanggal kedaluwarsa makanan kemasan,” jelas Imam Kukuh. (eny/smu)