Kangen kalau Tidak Disengat, Gembalakan Lebah sampai Bali

Kisah Sodri, Warga Ngaliyan yang 16 Tahun Tekuni Budidaya Lebah Madu

541
OTODIDAK: Sodri di depan toko madu Omah Madu Atlas miliknya. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OTODIDAK: Sodri di depan toko madu Omah Madu Atlas miliknya. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OTODIDAK: Sodri di depan toko madu Omah Madu Atlas miliknya. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)
OTODIDAK: Sodri di depan toko madu Omah Madu Atlas miliknya. (MIFTAHUL A’LA/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Sodri, 47, sudah 16 tahun beternak lebah madu jenis Melivera. Sudah banyak suka duka dialami selama membudidayakan lebah impor yang memiliki postur tubuh besar dan bisa menghasilkan madu dengan kualitas bagus ini. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA

SELAMA ini orang masih takut bersentuhan langsung dengan lebah. Karena selain dinilai mengganggu, sengatan lebah cukup menyakitkan. Bahkan bagi orang yang tidak terbiasa, sengatan lebah bisa membuat bengkak-bengkak. Tapi lain ceritanya bagi Sodri, warga RT 3 RW 4, Kelurahan Podorejo, Ngaliyan ini. Ia justru mengaku kangen kalau satu hari tidak disengat lebah.

”Ya, sengatan lebah itu sudah makanan sehari-hari, wong saya selalu bersentuhan dengan lebah,” kata Sodri saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di rumahnya, kemarin.

Ia mengaku telah membudidayakan lebah madu sejak 2000 silam. Tidak ada pendidikan khusus untuk pekerjaan yang cukup menantang ini. Ia menjalaninya secara otodidak dan belajar dari keluarganya yang sudah terlebih dahulu bersentuhan dengan lebah sejak 1980-an.

”Awalnya hanya mencoba, karena memang tinggal di daerah yang sulit akses transportasi, seperti terisolasi dan sulit mencari pekerjaan. Akhirnya mulai muncul ide untuk melanjutkan bisnis lebah,” kenangnya.