SEMARANG – Upaya Pemkot Semarang melakukan revitalisasi Kawasan Kota Lama Semarang terus dilakukan. Salah satunya dengan menerapkan perizinan satu pintu melalui Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang. ”Saat ini sudah tahap finalisasi SOP (Standar Operasional Prosedur). Nantinya kami akan terus melakukan pendampingan termasuk juga dalam hal perizinan. Jadi, nanti satu pintu lewat BPK2L,” ungkap Ketua BPK2L Semarang sekaligus Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Ia menjelaskan, pada awal kepengurusannya sebanyak 28 bangunan telah diketahui pemiliknya. Jumlah tersebut saat ini terus bertambah menjadi 40 dari total seluruhnya 105 bangunan. Pihaknya mengaku akan terus melakukan upaya sehingga seluruh pemilik gedung diketahui dan bersedia diajak bersama-sama melakukan revitalisasi. ”Sebenarnya sudah ada beberapa yang diketahui pemiliknya, hanya saja belum mau diajak komunikasi,” katanya.

Mbak Ita –sapaan akrab Wakil Wali Kota- mengklaim, sebenarnya masyarakat sangat antusias mengoptimalkan penggunaan aset di kawasan Kota lama. Antara lain Gedung Nyonya Meneer yang akan dijadikan sebagai museum jamu. Selain itu, Gedung Monood Huis di Jalan Kepodang 11-13 yang akan dijadikan galeri dan lain sebagainya.

”Selain dipergunakan sendiri, ada beberapa yang dikerjasamakan dengan pihak ketiga seperti gedung RNI (Rajawali Nusantara Indonesia) dan GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia),” terangnya.

Adapun dari sisi pemerintahan, lanjut dia, telah dibentuk bebeberapa pokja yang secara khusus menangani terkait pedagang kaki lima (PKL), infrastruktur, dan perizinan. Di samping itu, pemkot juga tengah menyiapkan payung hukum agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. ”Bangunan cagar budaya itu tidak mudah perawatannya. Makanya kami ingin mereka paham jangan sampai melakukan restorasi yang salah,” tandasnya. (fai/aro/ce1)