Juragan Gula Pasir Disandera

Menunggak Bayar Pajak Rp 43 Miliar

397
BIAR JERA: SDH digelandang masuk Rutan Klas IA Surakarta kemarin (27/5). Dia disandera selama enam bulang hingga melunasi utang pajaknya. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
BIAR JERA: SDH digelandang masuk Rutan Klas IA Surakarta kemarin (27/5). Dia disandera selama enam bulang hingga melunasi utang pajaknya. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
BIAR JERA: SDH digelandang masuk Rutan Klas IA Surakarta kemarin (27/5). Dia disandera selama enam bulang hingga melunasi utang pajaknya. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)
BIAR JERA: SDH digelandang masuk Rutan Klas IA Surakarta kemarin (27/5). Dia disandera selama enam bulang hingga melunasi utang pajaknya. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

SOLO – Tak terbayangkan oleh SDH, 69, bakal merasakan tidur Rumah Tahanan (Rutan) Klas IA Surakarta. Perempuan baya ini terpaksa disandera Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (Kanwil DJP) Jateng II karena menunggak pajak hingga Rp 43 miliar.

Penyanderaan dilakukan karena SDH dinilai tidak mempunyai itikad baik melunasi utang pajaknya walapun dirasa mampu melunasinya.

“Ini hasil komulatif dari pajak yang tidak dia bayarkan sejak tahun 2008 lalu. Kita sudah melakukan berbagai upaya peringatan, namun tidak mendapat respons baik. Akhirnya kita lakukan eksekusi penagihan pajak secara paksa,” ujar Kepala Kanwil DJP Jateng II Lusiani di Rutan Klas IA Surakarta, Jumat (27/5).

Kepada pengusaha di bidang perdagangan besar gula pasir dan tepung terigu ini, Kanwil DJP Jateng II melakukan upaya peringatan pada 2012. Namun SDH tidak terima dan malah mengajukan banding pada 2014.

“Sudah sidang banding di kantor pengadilan pajak dan (banding SDH, Red) ditolak majelis hakim. Tapi sampai dua tahun dia tetap tidak bisa membayar kewajibannya tersebut,” imbuh Lusiani.

Dilakukannya gijzeling diklaim telah memenuhi ketentuan Undang-Undang Nomor 19 tahun 200 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. “Sudah mendapat izin dari Menteri Keuangan,” bebernya.