”Dengan adanya uang pangkal malah membuat mahasiswa keberatan, harus ada penghapusan uang pungutan atau sumbangan kuliah di kampus ini,” katanya.

Lutfiana Lalatusila, salah satu mahasiswa yang lolos SNMPTN 2016 mengaku, sangat keberatan dengan adanya uang pungutan yang diberlakukan. Lutfiana yang lolos SNMPTN Prodi Pendidikan Ekonomi jurusan Ekonomi Akuntansi ini mengaku orang tuanya tidak sanggup membayar uang pungutan yang dibebankan oleh kampus.

”Satu semester saya harus membayar Rp 5,8 juta, itu setelah saya meng-upload data-data sebagai syarat masuk. Jelas orang tua saya keberatan, apalagi hanya bekerja sebagai seorang buruh, belum kuliah saja sudah harus kena biaya yang sangat tinggi,” keluhnya.

Aksi demo yang berlangsung sekitar pukul 09.15 itu akhirnya ditemui Wakil Rektor I Unnes Prof Rustono dan Wakil Rektor II Dr S Martono MSi. Namun saat itu Rustono hanya menjanjikan akan menampung aspirasi dari mahasiswa tersebut. Tentu saja, para mahasiswa merasa tidak puas. ”Kami menunggu sampai berita soal biaya peningkatan mutu dan prestasi kemahasiswaan di web dan pengisian SPI dihapuskan. Jika belum juga dihapus, kami akan tetap di sini,” ancam Ahmad Fauzi.

Suasana sempat memanas karena ribuan mahasiswa terus merangsek ke gedung Rektorat Unnes. ”Mari berbaris rapi dan sampaikan aspirasi,” teriak Ahmad Fauzi di atas mobil pikap yang diparkir di depan rektorat.

Wakil Rektor II Bidang Umum dan Keuangan, Dr S Martono MSi, yang mewakili Rektor Unnes karena sedang berada di luar kota mengatakan, menerima masukan dan tuntutan para mahasiswa. ”Nanti akan kami bahas dan akan kami sampaikan, karena untuk membuat keputusan harus dihadiri seluruh pimpinan kampus,” ungkapnya.