TOLAK SPI: Ribuan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat demo menolak SPI, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK SPI: Ribuan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat demo menolak SPI, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK SPI: Ribuan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat demo menolak SPI, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TOLAK SPI: Ribuan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) saat demo menolak SPI, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEKARAN – Ribuan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), Kamis (26/5) kemarin, menggelar aksi demo menolak Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) dan meminta perbaikan sistem Uang Kuliah Tunggal (UKT). Massa membawa spanduk penolakan dan memasangnya di berbagai sudut kampus.

Para mahasiswa juga menurunkan bendera setengah tiang di halaman Gedung Rektorat Unnes sebagai tanda duka cita terhadap keputusan kampus yang dianggap memberatkan. Sebelum berdemo di rektorat, massa yang menamakan diri Aliansi Mahasiswa Unnes Bersatu itu melakukan longmarch dan membagikan selebaran berisi tuntutan kepada para mahasiswa dan warga di sepanjang jalan.

Koordinator aksi, Ahmad Fauzi, mengatakan, keputusan rektor menaikkan SPI atau dengan nama lain Biaya Peningkatan Mutu dan Prestasi Kemahasiswaan (BPMPK) bagi mahasiswa baru melalui jalur mandiri dan UKT, dianggap mahal. Sehingga tidak terjangkau bagi mahasiswa yang berasal dari kalangan menengah ke bawah atau masyarakat miskin.

“Kami menolak diberlakukannya BPMPK atau pungutan lain selain UKT. Kami juga menuntut agar pihak kampus bisa memperbaiki sistem UKT, serta menolak biaya kuliah yang tinggi. Kami ingin birokrat Unnes bisa melibatkan mahasiswa ketika merumuskan kebijakan,” desaknya.

Menurut dia, saat ini banyak kasus di sekolah negeri ataupun perguruan tinggi negeri yang mulai dikomersialkan dengan cara menarik uang kuliah, dan merumuskan kebijakan kampus dengan menarik uang pangkal (SPI/BPMPK). Ia pun menuding jika pemberlakuan SPI/BPMPK sarat dengan kontroversi.