Oleh : Djawahir Muhammad

SEBENTAR lagi, sebagian besar masyarakat Indonesia akan menjalankan puasa wajib selama sebulan penuh yakni puasa Ramadan. Kebetulan, pada tahun ini perhitungan awal bulan Ramadan versi pemerintah maupun dua ormas Islam terbesar di Indonesia (Nahdlatul Ulama/NU dan Muhammadiyah) sama, yaitu tanggal 6 Juni 2016. Persamaan ini mempermudah masyarakat mengatur jadwal kegiatannya, misalnya penabuhan bedug di masjid besar Kauman, Semarang, sebagai penanda upacara Dugder. Seringkali terjadi, penentuan karnaval dugder yang jatuh sehari menjelang awal bulan Ramadan diselenggarakan dua hari sebelumnya atau disesuaikan dengan situasi dan kondisi agar tidak mengganggu perbedaan rukyah dan hisab. Tentu saja dugderan model penyesuaian ini berakibat berkurangnya keaslian upacara tradisional yang dikemas kembali pada 2004 oleh Jamaah Peduli Dugder dan Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Padahal, menurut pandangan sejumlah media, rekonstruksi upacara tradisional yang dimulai pada tahun 1891 oleh KRMT Ario Purbaningrat ini berhasil mengembalikan nuansa klasikalnya!

Bagi masyarakat Semarang dan orang Jawa pada umumnya, memasuki bulan Ramadan akan terasa lebih afdhal bila sebelum itu telah melakukan upacara tilik kubur, ziarah atau nyadran ke makam leluhur. Nyadran bukan ajaran Islam, tapi memiliki nuansa religius Islami karena dalam upacara bersih-bersih makam itu biasanya juga dibacakan surat al Fatikhah dan surat Yasin yang pahalanya ditujukan kepada almarhum.

Dalam perkembangan zaman, upacara tradisional sebagai wahana budaya leluhur bisa dikatakan masih memegang peranan penting. Upacara tradisional yang memiliki nuansa religius dan filosofis sampai sekarang masih dipatuhi oleh masyarakat pendukungnya. Bukan hanya dilakukan umat Islam, tapi masyarakat umum. Masyarakat bahkan takut jika tidak melaksanakan akan mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Sebagaimana diketahui, dalam sejarah perkembangannya kebudayaan Jawa mengalami akulturasi dengan berbagai bentuk kultur yang ada. Oleh karena itu, corak dan bentuknya diwarnai oleh berbagai unsur budaya yang pada umumnya masih mempunyai hubungan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan di luar manusia, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Atau dapat juga diartikan sebagai kekuatan supranatural seperti roh nenek moyang, pendiri desa, atau roh leluhur yang dianggap masih memberikan perlindungan padanya dan keturunannya. Mereka percaya bahwa tidak semua usaha manusia dapat berjalan lancar, terkadang menemui tantangan dan hambatan yang sulit dipecahkan. Dalam kepercayaan (religi) animisme, makam adalah tempat suci yang digunakan sebagai sarana berkomunikasi spiritual nenek moyang dengan roh para leluhur atau dengan Tuhan, khususnya menjadi tempat yang afdhal untuk berdoa memohon jalan keluar dari tantangan dan hambatan tersebut.