sekolah-smp

Hampir semua Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Semarang, melarang siswanya mengendarai sepeda motor ke sekolah karena memang dianggap belum cukup umur mengendarai kendaraan bermotor. Meski begitu, para siswa tidak kurang akal. Mereka nekat membawa motor ke sekolah, dengan cara dititipkan di rumah temannya yang dekat dengan sekolahan.

BEBERAPA sekolah yang siswanya nekat membawa kendaraan bermotor, jumlahnya tidak sedikit. Berdasarkan penelusuran Jawa Pos Radar Semarang, baik di SMP di pinggiran maupun kota di Kota Semarang, di antaranya, SMP N 28 Semarang di Kelurahan Mangkang Kulon, SMP N 22 Semarang di Gunungpati, SMPN I Ronggolawe, SMPN Cinde, SMPN 7 Jalan Imam Bonjol Semarang, dan SMPN 39 Sompok, dan masih banyak lagi.

Sebut saja Rizky, siswa SMP N 7 ini mengaku nekat membawa kendaraan bermotor ke sekolah, lantaran jarak antara rumah dan sekolahnya cukup jauh. Selain itu, sulitnya angkutan umum untuk pergi ke sekolah dan kesibukan kedua orang tuanya sehingga tidak bisa mengantar atau menjemputnya saat berangkat ataupun pulang sekolah.

“Rumah saya di daerah Jalan Hasanuddin Semarang, angkutannya sering susah. Orang tua juga tidak bisa mengantar, akhirnya saya pakai motor,” kata siswa kelas 2 ini.

Membawa motor ke sekolah, kata Rizki, bukannya tidak ada risiko. Meski ia sengaja lewat jalan tikus untuk sampai di sekolah di Jalan Imam Bonjol Semarang, kendaraan miliknya harus dititipkan di rumah warga agar tidak ketahuan pihak sekolah.

“Kalau orang tua tidak melarang, yang penting pesannya hati-hati. Kadang saya menitipkan di dekat sekolah atau rumah teman yang memang dekat dari sekolah,” jelasnya.

Untuk mengakali agar tak ketahuan pihak sekolah, Rizky sengaja berangkat agak pagi. “Kadang kalau ekstra kulikuler susah kalau tidak bawa motor, apalagi kalau pulang sore. Angkutan sudah tidak ada dan orang tua tidak bisa menjemput,” ungkapnya.