Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)
Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)
Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)
Djoko Setijowarno (DOK JAWA POS RADAR SEMARANG)

BANYAKNYA anak usia SMP yang menggunakan sepeda motor, meski belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) karena belum cukup umur, sangat memprihatinkan banyak pihak. Terutama Pakar Transportasi Unika Semarang, Djoko Setijowarno. Apalagi berdasarkan data pelanggaran lalu lintas (Lalin) beberapa tahun terakhir, penyumbang terbesar kecelakaan lalu lintas di jalanan adalah anak-anak kecil yang belum bisa mengendarai kendaraan bermotor dengan baik. “Saya sendiri juga heran kenapa banyak anak kecil umur SMP atau SD sudah diperbolehkan mengunakan motor sendiri,” katanya, kemarin.

Dalam hal ini, orangtua memiliki peran besar untuk memberikan kesadaran berlalu lintas terhadap anak-anaknya. Selain itu, Pemkot Semarang belum memenuhi kewajibannya menyediakan transportasi masal yang menjangkau ke tiap sekolah baik sekolah di perkotaan maupun pinggiran Kota Semarang. “Karena Pemkot belum memberikan transportasi umum yang memadai dan nyaman, banyak anak enggan menggunakan transportasi masal dan memilih untuk mnggunakan kendaraan pribadi,” tuturnya.

Menurut Djoko, polisi terbilang tidak tinggal diam dan terus melakukan razia terhadap anak di bawah umur yang mengendarai motor. Tapi begitu razia selesai, mereka kembali mengendarai motor. “Ini sudah menjadi semacam budaya,” ujarnya.

Data dari Polda Jateng, kata dia, menunjukkan anak-anak di usia 15 tahun ke bawah sudah banyak yang melangar lalu lintas. Pada triwulan I 2016, tercacat ada sebanyak 17.484 pelanggar yang masih berusia 0-15 tahun. Sedangkan untuk usia 16-30 tahun tercatat ada sebanyak 102.333 pelanggar lalu lintas. “Jumlah ini bisa saja terus bertambah, karena kesadaran berlalu lintas masih kurang. Saya kira ini membutuhkan peran penting orangtua dan pemerintah, bukan hanya polisi,” tambahnya.

Pemkot Semarang harus bisa mempriorotaskan dalam merealisasikan transportasi masal yang aman dan nyaman. Selama ini, Pemkot terkesan masih kurang perduli dengan transportasi masal di Kota Atlas. Padahal, peningkatan angka kecelakaan yang menyebabkan korban jiwa lebih banyak didominasi kendaraan pribadi. Terlebih anak-anak yang masih belum memiliki SIM dan menggunakan kendaraan secara ugal-ugalan.

“Perlu ada solusi konkret dan terobosan agar angka kecelakaan bisa ditekan dengan maksimal. Pemkot perlu belajar dengan Korea Selatan yang bisa menekan angka kecelakaan setiap tahunnya hingga 3 persen. Salah satu terobosannya adalah transportai masal yang aman dan nyaman. Sehingga warga enggan menggunakan kendaraan pribadi karena sudah merasa nyaman di kendaraan umum,” tambahnya. (fth/ida)