image001-web

Oleh : Heri Kristantoro

AKHIR-akhir ini banyak diberitakan di media massa adanya kasus kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur yang pelakunya juga anak di bawah umur. Dan yang menampar dunia pendidikan adalah para korban dan pelaku masih duduk di bangku sekolah, baik sekolah dasar maupun menengah. Sebut saja, kasus Yuyun, siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Padang Ulah Tanding Rejang Lebong, Bengkulu. Yuyun adalah korban kejahatan seksual yang disertai dengan kekerasan dan pembunuhan oleh 14 pelaku yang mayatnya ditemukan oleh masyarakat dan aparat Rejang Lebong, Bengkulu.

Sontak, peristiwa tragis ini menjadi trending topic yang menghiasi berita di berbagai media, menjadi pembicaraan khalayak umum bahkan sampai Presiden Joko Widodo ikut menyampaikan pendapatnya. Presiden mengatakan bahwa kekerasan seksual pada anak adalah kejahatan luar biasa. Pelakunya perlu dihukum seberat-beratnya, penanganannya menjadi prioritas dan harus dilakukan dengan cara yang luar biasa.

Kemajuan media dapat menjadi salah satu sebab munculnya penghayatan yang keliru mengenai seksualitas. Yang memprihatinkan adalah ketika seksualitas dimengerti secara sempit. Seksualitas semata-mata dikaitkan dengan masalah-masalah “seks” antara pria dan wanita. Hal ini mendorong orang tidak lagi memandang seksualitas sebagai anugerah Allah yang luhur, tetapi sebagai obyek kepuasan diri. Dorongan untuk memuaskan diri membuat orang akhirnya merendahkan arti dari seksualitas itu sendiri dan bersikap tidak bertanggungjawab terhadap keberadaan seksualitasnya.

Upaya Pencegahan
Melihat pelaku atau korban kejahatan seksual yang dilakukan oleh siswa yang masih sekolah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tengah menggodok program internalisasi pendidikan seksualitas dalam kurikulum sekolah.