grafis-hl

SEMARANG – Data yang dikantongi PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) saat penertiban, Kamis (19/5) lalu, dinilai tidak valid. Terbukti, banyak rumah yang sebelumnya diberi tanda silang atau akan dirobohkan, mendadak direvisi menjadi tanda centang alias tak jadi dirobohkan. Tak hanya itu, ada rumah warga yang memiliki sertifikat hak milik (SHM), namun tetap dilakukan perusakan.

”Mapping-nya itu dadakan, harusnya tidak bisa begitu. Wong yang menerima (uang ganti bongkar, Red) hanya tujuh orang, kok ini malah dibongkar semua,” keluh Ketua Forum RW Kebonharjo, Supardjo, kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Hal senada diungkapkan Lestari, warga Kebonharjo lainnya. Saat pembongkaran kemarin, ia mengaku sangat panik dan berusaha mengeluarkan barang-barang berharga miliknya. Hal itu dikarenakan petugas dari PT KAI tiba-tiba menandai rumahnya dengan tanda silang dengan cat pilox warna merah. Apalagi beberapa rumah tetangganya sudah diratakan dengan alat berat.

”Saya langsung keluarkan barang berharga. Semuanya saya keluarkan dari dalam rumah. Padahal saya punya SHM, tapi saat itu rumah saya ditandai dengan cat pilox merah dengan tanda silang,” tuturnya.

Wanita 38 tahun ini mengaku sangat trauma. Apalagi secara langsung dengan mata dan kepalanya sendiri, ia melihat rumah tetangganya telah diratakan dengan beghu wana hijau. Beberapa tetangganya yang melakukan aksi penolakan pun dihadiahi tembakan gas air mata oleh petugas hingga akhirnya lari tunggang-langgang.