Dikatakan, PT KAI telah menandai rumah warga yang belum menerima uang bongkar tanpa konfirmasi yang jelas. Saat petugas kepolisian mendorong massa untuk mundur, satu per satu rumah diberi tanda silang berwarane oranye di dinding tembok. ”Harusnya nggak boleh seperti itu. Ini bikin warga yang wanita dan anak-anak ketakutan hingga menangis. Warga setuju pembongkaran dilakukan pada rumah yang sudah diberikan uang ganti,” jelasnya.

Tangisan serta jeritan pun terus kian keras karena warga tetap melakukan konfrontasi. Hingga akhirnya dari 68 bangunan yang akan ditertibkan, tinggal 17 bangunan saja yang tersisa dan belum dibongkar. Aksi anarkisme sempat terjadi kala warga yang beringas dan emosi melempari petugas dengan batu dan alat seadanya. Tidak tinggal diam petugas pun membalas dengan tembakan gas air mata hingga membuat warga kocar-kacir.

”Katanya ada uang bongkar, saya belum menerima sama sekali. Tapi ini sudah main bongkar saja,” teriak Novi Pariantanti, warga RT 5 RW 11.

Ia meminta agar PT KAI memberi tenggang waktu agar ia bisa mengemasi barang miliknya. Novi yang seorang janda hanya bisa pasrah melihat petugas terus mendesak masuk hingga merobohkan beberapa rumah milik tetangganya. ”Saya tidak tahu akan tinggal di mana, mungkin numpang dulu di rumah tetangga,” ujarnya.

Aktivis Forum Pemuda Kebonharjo (FPK), Irawan, menuduh PT KAI telah melakukan pelanggaran HAM berat, karena mengingkari janji, bukan hanya mengeksekusi 7 rumah yang telah menerima uang ganti saja. ”Yang belum dapat (ganti rugi) gimana? Pemerintah tidak boleh hanya diam,” katanya yang membakar semangat warga untuk terus melawan.

Hingga pukul 15.00, masih terdengar beberapa tembakan dan aksi saling lempar batu oleh kedua belah pihak. Sejumlah warga dan kepolisian pun mengalami luka hingga harus dibawa kerumah sakit terdekat.