BANYUMAS – Thalasemia dirasa kurang sosialisasi. Padahal, jumlah pengidap Thalasemia di Jawa Tengah menduduki peringkat 2 nasional setelah Jawa Barat. Bahkan, dari sekitar 7.500 pengidap, 30 persen atau seribu di antaranya berada di provinsi ini.

Ketua Yayasan Thalasemia Indonesia, Ruswandi menuturkan, jumlah itu tergolong sangat darurat. Ekspektasinya, jika ada 7.500 penderita, berarti butuh setidaknya 20 juta cc darah atau 200 ribu kantong darah. ”Untuk mencapai stok darah sampai sebanyak itu, seluruh warga Indonesia harus donor darah. Repot ya, tidak semua orang mau donor,” ucapnya di sela peresmian Gedung Thalasemia RSUD Banyumas, Kamis (19/5).

Parahnya, jumlah penderita Thalasemia seperti fenomena gunung es. Sebab, tanda-tanda penyakit ini belum diketahui masyarakat lantaran kurang sosialisasi. Jadi pasien yang datang ke rumah sakit hanya yang sudah parah saja.

Karena itu, Ruswandi mengajak pihak-pihak terkait, seperti Dinas Kesehatan untuk ikut menggeber sosialisasi Thalasemia. Dia pun mengimbau kepada masyarakat untuk cek Thalasemia sebelum menikah. ”Jika diketahui sejak dini, bisa mudah dicegah,” tegasnya.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo pun mendorong agar seluruh masyarakat segera mengecek ketika menginjak usia remaja. Idealnya, ketika lulus SMP atau tahun pertama SMA. ”Pokoknya, kalau sudah tahu pacaran, harus segera cek. Ini untuk masa depan kalian, lho,” bebernya.

Politikus PDIP ini membeberkan, jika sudah telanjur parah, biaya pengobatan Thalasemia sangat tinggi. Bisa sampai Rp 10 juta. Padahal, ada kasus di Jateng, dalam satu keluarga ada tiga yang menderita Thalasemia.

Kini, Pemprov Jateng pun tengah berdiskusi dengan Kementerian Kesehatan dan BPJS Kesehatan, agar para penderita Thalasemia bisa diasuransikan lewat kesehatan. ”Kalau gaji orang tuanya UMK, kan tidak cukup untuk berobat. Jadi pemerintah harus hadir di sini,” pungkasnya. (amh/ric/ce1)