DIRATAKAN: Puluhan rumah warga Kebonharjo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang dirobohkan dengan alat berat yang dijaga ketat petugas gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP Kota Semarang, dan petugas PT KAI, kemarin. (ADITYO DWI/JPG/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIRATAKAN: Puluhan rumah warga Kebonharjo, Kelurahan Tanjung Mas, Semarang dirobohkan dengan alat berat yang dijaga ketat petugas gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP Kota Semarang, dan petugas PT KAI, kemarin. (ADITYO DWI/JPG/JAWA POS RADAR SEMARANG)

EKSEKUSI lahan di Kampung Kebonharjo, Tanjung Mas kemarin (19/5) jelas saja mengganggu pelaksanaan Ujian Sekolah (US) di SD Kusuma Bhakti. Sebab, salah satu alat berat tampak menghancurkan rumah dua lantai yang terletak persis di belakang sekolah tersebut. Praktis, hal itu sempat membuat konsentrasi siswa buyar, karena terganggu suara gaduh di luar ruangan.

Kepala SD Kusuma Bhakti, Haryatun, mengatakan, jika di SD tersebut ada sekitar 75 siswa kelas VI yang sedang melaksanakan ujian sekolah hari keempat dengan mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan Pendidikan Agama. Saat ada alat berat datang, para siswa yang tengah mengerjakan US tiba-tiba menangis histeris dan teriak-teriak takut sekolah dan rumah mereka rata dengan tanah. ”Suara yang keras dan kegaduhan yang ada membuat siswa menjadi histeris dan banyak yang menangis,” tutur Haryatun.

Selain itu, para siswa jadi terburu-buru segera menyelesaikan ujian, padahal waktu pengerjaan masih lama. Untuk menjaga keselamatan para siswa, pihak sekolah meminta mereka tetap tinggal di dalam kelas untuk mengamankan diri dari aksi anarkisme dan bentrokan yang dilakukan warga dengan petugas.

”Harusnya ada surat pemberitahuan dulu, jangan main hakim sendiri, karena kami juga melakukan kewajiban negara yakni menyelenggarakan US,” katanya.

Selain mengganggu US SD, proses eksekusi kemarin juga menyebabkan salah seorang warga tewas mendadak terkena serangan jantung. Korban diketahui bernama Jamian, 60, warga RT 1 RW 10 Kebonharjo.

Menurut informasi yang dihimpun, Jamian sebelumnya ikut warga berjaga-jaga untuk mencegah PT KAI melakukan eksekusi. Namun karena diduga kaget dan kelelahan saat menghadang petugas, tiba-tiba korban jatuh tersungkur hingga akhirnya meninggal.