Peninggian Jalan Rp 8,2 Miliar Ditolak Warga

321
AKAN DITINGGIKAN : Jalan Desa Wonokerto yang selalu langganan banjir lantaran terkena limpasan air dari Sungai Wonokerto yang tepat berada di sebelahnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKAN DITINGGIKAN : Jalan Desa Wonokerto yang selalu langganan banjir lantaran terkena limpasan air dari Sungai Wonokerto yang tepat berada di sebelahnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKAN DITINGGIKAN : Jalan Desa Wonokerto yang selalu langganan banjir lantaran terkena limpasan air dari Sungai Wonokerto yang tepat berada di sebelahnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
AKAN DITINGGIKAN : Jalan Desa Wonokerto yang selalu langganan banjir lantaran terkena limpasan air dari Sungai Wonokerto yang tepat berada di sebelahnya. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Proyek peninggian jalan yang akan dilakukan Juni 2016 mendatang di Desa Wonokerto sepanjang 1,5 kilometer senilai Rp 8,2 miliar ditolak warga Wonokerto. Warga khawatir, peninggian jalan tersebut akan semakin menenggelamkan permukiman warga.

Pengurus Paguyuban Nelayan Wonokerto, Sumaedi, mengungkapkan bahwa peninggian jalan di Desa Wonokerto memang penting, namun warga lebih membutuhkan adanya normalisasi sungai dan adanya tanggul pengaman yang dibangun di sepanjang Sungai Wonokerto.

Menurutnya, dengan adanya normalisasi sungai dan pembangunan tanggul, serta saluran air rumah tangga, maka banjir di Desa Wonokerto bisa berkurang atau tidak lagi terjadi banjir. Namun jika ada peninggian jalan justru akan membuat rumah warga semakin tenggelam, karena air tidak bisa mengalir ke Sungai Wonokerto.

“Kami minta agar peninggian jalan senilai Rp 8,2 miliar dibatalkan saja, dialihkan untuk normalisasi sungai, membuat tanggul dan saluran air rumah tangga. Uang rakyat biar bisa lebih bermanfaat, bukan dihambur-hamburkan tanpa kejelasan,” ungkap Sumaedi yang dibenarkan warga lain.

Sumaedi juga mengatakan peninggian jalan dengan paving, yang telah diterapkan di Jalan Desa Wonokerto Wetan, kondisinya justru semakin rusak karena ambles dan sulit dilalui. Karena kondisi tanah di Desa Wonokerto menuju Tempat Pelelangan Ikan (TPI), labil dan lebih rendah dengan ketinggian Sungai Wonokerto.