PEMERIKSAAN SAKSI : Sidang dugaan korupsi proyek pembangunan pacuan kuda tahap II di Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang tahun 2012 di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PEMERIKSAAN SAKSI : Sidang dugaan korupsi proyek pembangunan pacuan kuda tahap II di Desa Tegalwaton Kecamatan Tengaran Kabupaten Semarang tahun 2012 di Pengadilan Tipikor Semarang. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

UNGARAN-Tidak ditahannya dua terdakwa kasus dugaan korupsi proyek pembangunan pacuan kuda Tegalwaton Kabupaten Semarang disoal oleh beberapa pihak. Salah satunya, Sekertaris KP2KKN, Eko Haryanto saat di Ungaran, Selasa (17/5) kemarin. “Seharusnya, dua terdakwa kasus tersebut ditahan. Karena ini kasus korupsi termasuk extra ordinary crime,” ujar Eko.

Dua terdakwa tersebut di antaranya mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) Dinas Pariwisata Pemuda, Olahraga Kabupaten Semarang, Ade Fajar dan pelaksana proyek, Thomas Hartono.

KP2KKN dalam hal ini mempertanyakan kredibilitas Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambarawa. Pasalnya terdakwa kasus korupsi justru diperlakukan lebih santai daripada kasus pidana biasa. Menurut Eko, dengan tidak ditahannya terdakwa dapat diindikasikan para jaksa dan hakim ada main mata terhadap penanganan kasus ini. Hal itu dikarenakan, dengan tidak ditahannya terdakwa tersebut dikhawatirkan akan mempengaruhi saksi-saksi lain.

“Ini jelas dagelan, indikasi adanya mafia hukum di kasus korupsi. Dengan tidak ditahan, terdakwa dapat seenaknya mempengaruhi saksi yang berujung pada putusan hukuman yang rendah,” ujar Eko.

Eko berharap apapun alasannya, jaksa dan hakim harus segera melakukan penahanan terhadap dua terdakwa tersebut. “Penanganan kasus korupsi ini salah satu maksudnya untuk memberikan efek jera bagi masyarakat agar tidak melakukan tindakan pidana ini. Tapi dengan diberi keleluasaan, justru tidak memberikan efek jera sama sekali,” tuturnya.

Terpisah, Kasi Datun Kejari Ambarawa, Febrianda mengatakan dua dari tiga terdakwa memang tidak ditahan. Hal itu karena salah satu terdakwa Tri Budi telah ditahan karena kasus tipikor di Semarang.

Selain itu, dikatakan Febrianda, alasan jaksa tidak melakukan penahanan karena Ade Fajar dan Thomas Hartono dirasa koorperatif. “Mereka juga telah mengembalikan kerugian negara sebesar Rp 1,75 miliar yang dititipkan di kejaksaan,” ujarnya. (ewb/ida)