ROB PARAH: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan anggota dewan Kadarlusman saat meninjau rob di wilayah Kemijen, Semarang Timur, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ROB PARAH: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan anggota dewan Kadarlusman saat meninjau rob di wilayah Kemijen, Semarang Timur, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ROB PARAH: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan anggota dewan Kadarlusman saat meninjau rob di wilayah Kemijen, Semarang Timur, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
ROB PARAH: Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi dan anggota dewan Kadarlusman saat meninjau rob di wilayah Kemijen, Semarang Timur, kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Darurat rob yang terjadi Kota Semarang membuat sejumlah pihak langsung turun tangan. Wali Kota Semarang Hendar Prihadi misalnya. Selasa (17/5) kemarin, orang nomor satu di Kota Semarang ini mulai melakukan penyisiran di beberapa daerah yang menjadi langganan rob dan banjir. Selain mengunjungi Kelurahan Genuksari, Kecamatan Genuk, wali kota juga memantau langsung wilayah Kelurahan Kemijen, Kecamatan Semarang Timur yang kondisi robnya paling parah.

”Saya melihat air rob sudah mulai masuk perkampungan. Penampang sungai juga sudah penuh air. Yang paling tepat adalah harus dibuatkan sistem polder di masing-masing hilir sungai,” ungkap Hendi –sapaan wali kota— di sela melakukan pantauan rob di Kelurahan Genuksari RT 1 RW I Kecamatan Genuk.

Dia membeberkan, hilir sungai yang dimaksud meliputi Sungai Babon, Sungai Sringin, Sungai Tenggang, serta Sungai Banjir Kanal Timur dan Sungai Banger. Menurut dia, normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur sedang dalam pengerjaan pemerintah pusat. Sedangkan Sungai Banger masih dalam proses pengerjaan Pemkot Semarang. ”Yang masih menjadi PR (pekerjaan rumah) adalah tiga (sungai) sisanya,” katanya.

Atas permasalahan tersebut, lanjut dia, Pemprov Jateng menyatakan telah bersedia untuk membantu penanganannya. Saat ini, masih dalam proses pembuatan Detail Engenening Design (DED) dan diharapkan selesai pada akhir 2016. ”Kemudian proses Analisis Mengendai Dampak Lingkungan (AMDAL) pada 2018, dan 2019 proyek fisik bisa berjalan,” klaimnya seraya menegaskan upaya tersebut sebagai langkah jangka menengah dan panjang.