Kecelakaan Pelajar Mengkhawatirkan

377

Oleh: Djoko Setijowarno

KALANGAN pelajar masih mendominasi angka dan korban kecelakaan lalu lintas yang meninggal. Pertumbuhan sepeda motor tidak terkontrol dengan baik. Sejak 2005 sangat dirasakan dengan produksi sepeda motor di atas 5 juta per tahun dan dipermudah proses pembeliannya dengan uang muka ringan, menyebabkan jalan raya mulai dipenuhi sepeda motor. Terutama setelah makin maraknya pelajar naik sepeda motor ke sekolah. Korban kecelakaan di kalangan pelajar makin meningkat.

Saat ini, daya beli masyarakat Indonesia meningkat. Kesempatan memperoleh sepeda motor dipermudah dan ketersediaan transportasi umum makin turun, sehingga sepeda motor jadi pilihan tepat.

Kebijakan sepeda motor tidak terkendali. Untuk memenuhi kecepatan mobilitas, diciptakan sepeda motor laju tinggi, sangat membantu bergerak lebih cepat secara individu.

Di kalangan pelajar yang sebelumnya dapat menikmati layanan transportasi umum bertarif pelajar jarang ditemui. Transportasi umum yang dapat merangkap sebagai angkutan sekolah sulit ditemukan seiring dengan makin memburuknya layanan transportasi umum.

Fenomena pelajar mengendarai sepeda motor ke sekolah menjadi hal biasa. Ruang parkir sekolah menjadi terbatas, menyebabkan aktivitas parkir kerap memenuhi ruas jalan di sekitarnya. Dengan berkendaraan perseorangan, muncul budaya ketergesaan memburu waktu di masyarakat, dan berdampak pada meningkatnya angka kecelakaan lalu lintas.

Data dari Ditlantas Polda Jateng pada 2014 sebanyak 16.721 kejadian dan pada 2015 sebanyak 18.427 kejadian, mengalami kenaikan 1.706 kejadian (9 persen). Sedangkan jumlah kecelakaan yang melibatkan pelajar pada 2014 sebanyak 5.401 dan pada 2015 sebanyak 6.603 kejadian, atau ada kenaikan 1.202 kejadian (1,8 persen).