MANFAATKAN TEKNOLOGI: Ujian Nasional (unas) berbasis komputer yang dilakukan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Ungaran.
MANFAATKAN TEKNOLOGI: Ujian Nasional (unas) berbasis komputer yang dilakukan siswa kelas XII SMA Negeri 1 Ungaran.

SEMARANG – Ujian Nasional (Unas) SMP yang dimulai sejak Senin (9/5) bukan semata bicara lulus atau tidak. Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah (Sekda) Jateng Urip Sihabudin berharap, unas merupakan ajang untuk menilai kualitas siswa. Bukan asal lulus-lulusan saja. Para siswa dituntut memiliki pengetahuan dan keterampilan lebih, sehingga dapat menjadi modal masa depan.

”Mereka itu kan calon penerus bangsa. Jadi harus punya kualitas. Kalau lulus dari hasil contekan, kan percuma,” bebernya ketika ditemui di sela-sela monitoring pelaksanaan unas di SMP Muhammadiyah 3 Semarang, Kamis (12/5).

Meski begitu, pihaknya mengakui jika kualitas lulusan SMP beberapa angkatan lalu, tergolong bagus. Buktinya, persentase jumlah pelajar yang lulus setiap tahunnya terus meningkat secara signifikan. Mereka pun terpilih untuk mengikuti kelas di sekolah-sekolah favorit pada tahap selanjutnya. ”Semoga tahun ini persentasenya meningkat lagi. Kalau bicara target, inginnya lulus 100 persen,” tegasnya.

Dalam hal ini pemerintah terus berupaya memberikan bantuan, khususnya mengenai anggaran. Di mana alokasi anggaran pendidikan semakin meningkat, ditambah dengan BOS dan dana bantuan pendidikan lain. Pemerintah juga tidak berhenti merumuskan kurikulum yang tepat agar kualitas lulusannya juga meningkat.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Jateng, Nur Hadi Amiyanto yang ikut dalam monitoring tersebut menambahkan, di Jateng terdapat 4.967 SMP, baik negeri atau swasta. Rata-rata, setiap sekolah meluluskan sebanyak 240-an siswa per tahun.

’Angka itu tinggal dikalikan jumlah SMP-nya. Jadi, sekarang harus bicara kualitas agar mereka bisa meneruskan ke sekolah lanjutan yang dirasa favorit. Sekolah tingkat atas pun juga harus mengutamakan kualitas agar nantinya mereka mudah mendapatkan kerja,” cetusnya.

Tahun ini, lanjutnya, unas tingkat SMP tidak ada kendala. Tidak ada sekolah yang mengeluhkan kekurangan lembar soal dan lembar jawaban. Yang menggunakan sistem berbasis komputer pun tidak ada masalah. ”Tidak ada isu bocoran soal saja. Semuanya gerakan sudah terpantau,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMP Muhammadiyah 3 Semarang, Munawir menuturkan untuk menambah kesiapan para calon alumnus, pihak sekolah melakukan program tambahan setelah unas yang disebut masa pembekalan akhir anggota (Mapeta). Pembekalan yang diberikan antara lain mengenai pencegahan kriminalitas, peningkatan kesehatan, menyiapkan untuk bekerja, dan lain-lain. “Jadi nanti semua alumnus bisa lebih mengenal dunia luar sejak dini,” tandasnya. Pagi itu, selain mengunjungi SMP Muhammadiyah 3, tim monitoring juga menyambangi SMPN 29 dan MTS Negeri 1. (amh/ric/ce1)