Kasus Kekerasan Terhadap Anak Meningkat

249

UNGARAN-Kasus kekerasan yang dialami anak dan perempuan di Kabupaten Semarang meningkat. Berdasarkan data dari Reskrim Polres Semarang, pada 2015 ada 3 kasus. Sedangkan 2016 hingga baru akhir Mei ini, sudah 3 kasus. Sementara itu, pencabulan pada 2015 sebanyak 1 kasus dan 2016 sebanyak 4 kasus.

Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Herman Sophian mengatakan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi meningkatnya tingkat kekerasan tersebut. “Broken home, karena konsumsi miras, melihat film porno, dan ada kesempatan,” kata Herman, Kamis (12/5) kemarin.

Dia berharap, peran orangtua, masyarakat dan pemerintah turut serta dalam menekan angka kekerasan. Orangtua juga memiliki peran yang besar dalam hal menjaga dan mendidik anak. “Karena banyaknya kasus kekerasan tersebut, berawal dari minimnya peran orangtua dalam mendidik anak,” katanya.

Dikatakan Herman, dalam hal ini pihak pemerintah juga harus melakukan penyuluhan dan pendampingan kepada masyarakat terkait peran keluarga dalam mendidik anak. “Melalui unit PPA, Kepolisan siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam melakukan penyuluhan dan pendampingan kepada masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Semarang, Ngesti Nugraha mengatakan pemberian sanksi yang berat terhadap pelaku kekerasan terhadap anak dan perempuan merupakan hal yang tepat. “Sehingga bisa mengurangi. Pemkab sering melakukan sosialisasi. Orangtua dan guru harus memberikan pemahaman,” kata Ngesti.

Faktor lain yang menjadikan kasus kekerasan anak dan perempuan yaitu perkembangan teknologi. Di satu sisi penguatan sisi keagamaan juga perlu dilakukan. “Penguatan dari orangtua, sekolah, melalui kegiatan masyarakat juga dapat menjadi kontrol terhadap anak,” tuturnya.

Efek dari tindak kekerasan yaitu masa depan korban dalam hal ini anak dan perempuan dapat terenggut. Dikatakan Ngesti, pemerintah melalui program dari PKK melakukan pemberdayaan perempuan agar terbebas dari tindak kekerasan. (ewb/ida)