Solichul Huda (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Solichul Huda (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Solichul Huda (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Solichul Huda (DOK/JAWA POS RADAR SEMARANG)

GAGALNYA 380 siswa program IPA SMA Negeri 3 Semarang dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2016 menyedot perhatian banyak pihak. Sejauh ini, belum bisa dipastikan apakah penyebabnya kesalahan sistem Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) online yang digunakan panitia SNMPTN atau human error admin SMA Negeri 3 Semarang?

Pakar Information Technology (IT) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Solichul Huda, mengatakan, kemungkinan kesalahan bisa terjadi di kedua pihak, yakni bisa di admin SMAN 3 Semarang dan kesalahan di sistem PDSS online.

Dikatakan, jika pihak SMAN 3 belum melakukan proses verifikasi, maka hal itu melanggar Standar Operasional Prosedur (SOP). ”Untuk mengetahui siapa yang harus bertanggung jawab, maka perlu dilakukan audit keduanya, yakni audit sistem PDSS dan audit dokumen IPA SMAN 3 Semarang,” ungkap Huda –sapaan akrabnya— kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (12/5).

Huda menjelaskan, SNMPTN berdasar pada data PDSS. Salah satu isinya memuat nilai rapor siswa mulai kelas X hingga kelas XII dengan menggunakan sistem Satuan Kredit Semester (SKS). Untuk input datanya, ada 2 jenis, yakni menggunakan sistem lama dan sistem baru. Di SMAN 3 Semarang merupakan satu-satunya yang menggunakan sistem baru, karena merasa sudah siap.