8 SMA Lain Tidak Masalah

672

sma-pakai-sks

DI Jateng, ada 9 SMA yang menggunakan sistem kredit semester (SKS) sejak 2011. Namun dari 9 sekolah itu, hanya SMAN 3 Semarang yang mengalami masalah dalam SNMPTN 2016 lalu.

Selain SMAN 3 Semarang, pendaftaran SNMPTN dengan SKS dilakukan di SMAN 1 Kudus, SMAN 1 Pati, SMAN 1 Salatiga, SMAN 1 Kebumen, SMAN 1 Wonosobo, SMA Karangturi Semarang, SMA Takhassus Alquran Wonosobo, dan SMAN 3 Purwokerto.

”Hanya SMAN 3 Semarang aja yang bermasalah, padahal sekolah lain yang menggunakan sistem ini tidak bermasalah sama sekali,” kata Kasi Kurikulum Dikmen Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, Bambang Supriono kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Menurut dia, pada tahun ajaran sebelumnya, input Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS) online menggunakan sistem reguler. Namun tahun ini, lanjut Bambang, diberikan dua opsi kepada sekolah, yakni menggunakan sistem reguler dan sistem baru.

”Sistem baru ini contohnya, ada kelas A sampai F. Untuk kelas A sampai D ada pelajaran fisika, namun kelas E dan F tidak ada, dan bisa diambil semester berikutnya. Sistem baru pakainya on off. Meski sistem baru, nilainya atau mata pelajarannya masih sama. Nah, yang jadi masalah kalau pembagiannya (reguler dan baru) sama,” bebernya.

Dikatakan, sistem yang digunakan SMAN 3 Semarang adalah sistem baru. Hal ini dilakukan mungkin karena pihak sekolah sudah merasa siap. Padahal sekolah lainnya menggunakan SKS, namun dengan input data menggunakan sistem yang lama, dan sudah dilakukan pengecekan oleh pihak Dinas Pendidikan. ”Sekolah lainnya merasa belum siap, sehingga menggunakan sistem lama. Kayak di SMA Takhassus Alquran Wonsobo. Sepertinya yang menggunakan sistem baru hanya di SMAN 3 Semarang saja,” tuturnya.

Ia mengaku bingung, mengapa di sekolah lain tidak ada masalah, bahkan siswa di IPS dan akselerasi SMAN 3 Semarang ada yang lolos SNMPTN. Diduga ada kesalahan personal di pihak intern sekolah. Sehinga perlu dicari penyebab mengapa 380 siswa IPA reguler tidak lolos SNMPTN. ”Saya juga bingung, kok sistem di sekolah lain tidak masalah. Kita harus cari informasi dan kronologinya dengan seksama,” katanya. (den/aro/ce1)