GALANG DUKUNGAN: Warga menggalang tanda tangan penolakan terhadap rencana pembangunan rel KA Tawang-Pelabuhan Tanjung Emas. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
GALANG DUKUNGAN: Warga menggalang tanda tangan penolakan terhadap rencana pembangunan rel KA Tawang-Pelabuhan Tanjung Emas. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Warga Kebonharjo, Kelurahan Tanjung Mas, Kota Semarang bersikukuh melakukan perlawanan dalam penertiban yang dilakukan PT KAI pada pertengahan Mei mendatang. Terkait dengan keperluan reaktivasi dan pembangunan jalur shortcut jalur KA Stasiun Tawang – Pelabuhan Tanjung Emas.

Kuasa hukum warga Kebonharjo, Budi Sekoriyanto mengatakan jika pihak warga intensif melakukan aksi penolakan atas rencana reaktivasi rel KAI tersebut. Bahkan, saat perayaan Semarang Night Carnival (SNC) beberapa hari lalu, sejumlah warga melakukan aksi membagikan seribu pensil bertuliskan Save Kebonharjo kepada pengunjung SNC.

”Kami akan melakukan apa pun, agar suara kami didengar dan tidak ada pembangunan jalur shortcut,” katanya saat ditemui usai mengadu kepada Ketua DPRD Kota Semarang, Selasa petang (10/5) kemarin.

Budi mengungkapkan saat menghadap Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi, warga menuntut pemerintah untuk melakukan peninjauan ulang memorandum of understanding (MoU) reaktivasi dari Kementerian Perhubungan yang ditandatangani pada 21 Maret 2014 dan 20 Februari 2015 lalu.

”Dalam MoU tersebut, pada pasal 2 adalah dilakukan reaktivasi rel KAI Tawang-Pelabuhan. Jadi kembalikan ke jalur KA lama, yang dampaknya lebih kecil dan sedikit dibandingkan pembangunan jalur shortcut,” ucapnya.

Selain itu, lanjut Budi, jika nantinya PT KAI ataupun pemerintah akan meminta kembali tanah berdasarkan UU Nomor 2 tahun 2012, warga yang punya sertifikat hak milik (SHM) meminta agar bisa menunjuk tim appraisal Sucofindo untuk menilai berapa ganti untung yang akan diterima. ”Jadi ada hitungannya, tidak seperti yang dilakukan KAI, hanya memberikan uang bongkar,” lanjutnya.