Pembibitan Atlet Kota Semarang Tertinggal

394
BUTUH EVALUASI: Salah satu atlet silat Kota Semarang saat bertanding di nomor seni pada POPDA SD yang lalu. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUTUH EVALUASI: Salah satu atlet silat Kota Semarang saat bertanding di nomor seni pada POPDA SD yang lalu. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUTUH EVALUASI: Salah satu atlet silat Kota Semarang saat bertanding di nomor seni pada POPDA SD yang lalu. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BUTUH EVALUASI: Salah satu atlet silat Kota Semarang saat bertanding di nomor seni pada POPDA SD yang lalu. (BASKORO S/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Pengkot Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Semarang akan melakukan evaluasi total terkait kegagalan pada Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) SD Jateng 2016 yang baru saja digelar beberapa waktu lalu. Maklum saja, pesilat Semarang yang turun di ajang tahunan tersebut gagal membawa pulang medali.

Sekretaris Umum IPSI Kota Semarang Siswoyo Haris mengatakan, persiapan minim menjadi salah satu faktor kegagalan kontingennya. “Kami akui tahun ini kami gagal meningkatkan prestasi dalam Popda. Selain persiapan minim, juga tak didukung dengan fasilitas latihan yang representatif. Tapi kami tak mau mengkambinghitamkan pihak manapun. Kegagalan ini menjadi tanggungjawab semua,” kata Siswoyo Haris.

Pada Popda SD Jateng lalu, Semarang menerjunkan enam pesilat yang terdiri dari tiga putra dan tiga putri pada nomor tunggal seni. Untuk seni tunggal putri, Kota Semarang mengandalkan Ussy Apriana, Thoyibah Tri Adinda, dan Nazifa Fitri.

Pada bagian putra, kota ini mengandalkan Saputra Dwi Angga, Muhammad Rayhan, dan Muhammad Abdul Basits. Selama sebulan, mereka mematangkan teknik dalam program pemusatan latihan. ”Persaingan di Popda lalu sangat ketat. Terus terang memang Kota Semarang masih tertinggal. Ini merupakan pekerjaan rumah IPSI Kota Semarang untuk melakukan pembenahan. Potensi pesilat kota ini sejatinya tak kalah dengan daerah lain. Hanya saja, daerah lain melakukan persiapan lebih baik,” kata dia.

Di sisi lain, faktor mental bertanding juga harus diperhatikan dengan baik. Selain itu, teknik dan fisik juga harus dimatangkan. Siswoyo berharap, Kota Semarang kelak memiliki PPLPD untuk lebih memudahkan penjaringan atlet tak hanya silat. Dia mencontohkan Kendal yang telah memiliki program tersebut (PPLPD). ”Sekarang ini kami akan mempersiapkan pesilat untuk Popda SMP Jateng. Hasil pada tingkat SD akan kami jadikan pelajaran untuk memaksimalkan semua potensi,” tandasnya. (bas/smu)