Omset Pariwisata Naik 30 Persen

340
KUNJUNGAN MENINGKAT: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), salah satu destinasi wisata di Jawa Tengah yang akan ramai dikunjungi pelancong pada musim liburan di kuartal kedua tahun ini. (RICKY FITRIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KUNJUNGAN MENINGKAT: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), salah satu destinasi wisata di Jawa Tengah yang akan ramai dikunjungi pelancong pada musim liburan di kuartal kedua tahun ini. (RICKY FITRIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KUNJUNGAN MENINGKAT: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), salah satu destinasi wisata di Jawa Tengah yang akan ramai dikunjungi pelancong pada musim liburan di kuartal kedua tahun ini. (RICKY FITRIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KUNJUNGAN MENINGKAT: Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), salah satu destinasi wisata di Jawa Tengah yang akan ramai dikunjungi pelancong pada musim liburan di kuartal kedua tahun ini. (RICKY FITRIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kuartal kedua tahun ini memberikan angin segar bagi para pelaku pariwisata. Musim liburan di kuartal ini memberikan peningkatan omset di sektor wisata hingga di atas 30 persen.

Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) Jawa Tengah, Pranoto mengatakan, Juni mendatang sudah memasuki bulan Ramadan. Jelang bulan tersebut biasanya sejumlah sekolah dan universitas memanfaatkannya untuk study tour. “Pertengahan sampai akhir Mei ini akan ramai anak-anak sekolah dan mahasiswa yang berdarmawisata. Dengan tujuan rata-rata ke arah Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Lombok,” ujarnya, kemarin.

Dengan musim liburan ini, ujarnya, omset para agen tour dan travel dapat meningkat antara 30 sampai 40 persen. Peningkatan ini khusus bagi para pelaku pariwisata dengan segmentasi pasar end user. Di antaranya sekolah-sekolah, universitas dan keluarga.

Sedangkan para pelaku pariwisata dengan target pasar perusahaan dan pemerintah, biasanya akan lebih banyak menerima pesanan di awal maupun di akhir tahun. Hal ini terkait dengan kegiatan-kegiatan pengembangan Sumber Daya Manusia. “Sejumlah perusahaan ada yang mengajak karyawannya berwisata di awal tahun guna memotivasi kinerja mereka di tahun tersebut, tapi ada juga yang meletakkan wisata terkait capacity building ini di akhir tahun,” jelasnya.

Kemudian terkait harga, ia mengaku musim liburan biasanya memang ada kenaikan antara 5 – 10 persen. Namun demikian kenaikan tersebut terkait dengan kenaikan harga dari komponen-komponen yang berada di dalamnya. “Musim liburan pasti harga hotel dan transportasi meningkat. Hal ini juga pastinya berdampak dengan total biaya dari agen tour dan travel yang ditawarkan. Namun begitu untuk kenaikan antara 5 – 10 persen ini masih bisa ditolerir,” tandasnya. (dna/smu)